Senin, 20 Februari 2012

TELADAN

Penaklukan kota Mekkah yang disusul dengan ekspedisi militer di lembah Hunain, menurut saya adalah puncak keunggulan rasulullah saw., sebagai panglima perang. Dari jumlah personel tentara, kedua perang ini kalah dengan personel dalam perang tabuk yang melibatkan sekitar 30 ribu tentara, sementara Rasulullah “hanya” membawa 10 ribu tentara untuk menaklukkan Mekkah, dan 15 hari berikutnya, dalam perang Hunain, beliau memimpin 12 ribu tentara.

Ilustrasi dari Inet
Tetapi, ketika Tabuk disebutkan al-Qur’an salah satunya dalam peristiwa pertaubatan Ka’ab bin Malik dan dua sahabat veteran lain dari desersi sebagaimana dikisahkan dalam akhir surat at-Taubah, penaklukan Mekkah menonjol karena kemenangan yang gilang gemilang., Bayangkan, 10 ribu tentara itu menyiapkan diri secara rahasia, bergerak dalam senyap, dan akhirnya berhasil menyergap kota Mekkah dan menaklukkannya dengan korban minimal. Bayangkan, ketika perjanjian Hudaibiyah disusun, rasulullah “hanya” mengajak 1400 sahabat, tetapi dua tahun kemudian beliau menaklukkan Mekkah dengan jumlah sahabat yang meningkat hampir tujuh kali lipat. Karenanya al-Qur’an menyebutnya sebagai al-Fath al-Mubin, kemenangan yang besar.

Tidak sampai sebulan berselang, Rasulullah kembali memobilisasi para sahabat untuk bergerak ke lembah Hunain. Ekspedisi ini dilakukan untuk menghadapi provokasi militer  Malik bin Auf, pemimpin kabilah Hawazin dan Tsaqif yang menghimpun tentara dalam jumlah besar dan secara konyol membawa semua harta, istri dan anak-anak mereka. Tentara penakluk Mekkah ini segera menyambut seruan pemimpinnya. Mereka berhimpun dan bergerak dalam barisan yang kuat. Karena kekuatannya, kebanggaan merasuk dalam sebagian individu tentara. Mereka merasa kemenangan pasti mudah diraih mengingat kejayaan penaklukan Mekkah. Konon bahkan Abu Bakar, sahabat mulia itu sampai berkata, “Mulai hari ini kita tidak akan terkalahkan lagi karena jumlah yang sedikit.” Inilah yang disorot dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 25-26: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.”

Memang kuasa Allah yang berlaku. Kaum muslimin mengawali peperangan dengan kekalahan hebat dibawah hujan anak panah musuh dan dibawah selimut keremangan dini hari. Mereka lari tunggang langgang. Inilah hebatnya. Rasulullah tetap tegar. beliau yang menjadi target utama pembunuhan dalam semua peperangan melawan tentara pagan, dengan tabah tetap berdiri ditempat menyongsong musuh. Dari atas baghalnya, beliau menyeru kepada sahabat-sahabatnya agar berhimpun kembali, “Aku nabi, tidak berdusta. Aku putra Abdul Muthalib.” Beliau juga menyuruh Abbas, pamanda beliau untuk mengumandangkan panggilan, “Hai kaum Anshar…! Hai orang-orang yang telah berbai’at di Hudaibiyyah…!”

Melihat keteguhan rasulullah, akhirnya sedikit demi sedikit para sahabat berhimpun disekeliling beliau dan atas izin Allah roda peperangan segera berputar. Pemenang segera menjadi pecundang. Pasukan Islam mulai membalikkan keadaan dan mampu memukul mundur tentara Malik bin Auf. Mereka kalah total dengan meninggalkan rampasan perang yang luar biasa banyak. Tercatat 24 ribu ekor unta, lebih dari 4 ribu ekor kambing, 4 ribu tail perak dan emas, serta ribuan tawanan perang.

Setelah perang usai, rasulullah membagi-bagi rampasan perang ini kepada tentaranya, setelah membebaskan para tawanan perang. Beliau menempuh kebijakan yang “janggal”. Kepada penduduk Mekkah yang baru masuk Islam, beliau sangatlah royal. Abu Sofyan, mantan gembong kaum kafir Quraisy, pemimpin tentara pagan yang memerangi Islam pada perang Uhud dan Khandaq, mendapat 100 ekor unnta dan 40 tail perak. Begitu juga Mu’awiyah putranya. Para pemimpin kabilah pun mengambil apa saja yang dapat mereka ambil. Tetapi beliau tidak membagikan apapun kepada kaum Anshar, sahabat-sahabat terkemuka dan terdahulu beliau dari Madinah.

Segeralah kasak-kusuk menyebar dikalangan Anshar. Mereka bingung. Ketika perang, merekalah yang diseru dan dipanggil oleh Rasulullah. Tetapi seusai perang, justru kaum yang melarikan diri dari medan laga yang mendapat bagian. Sebagian mereka berkata, “semoga Allah mengampuni rasulNya. Beliau memberi kepada Quraisy dan meninggalkan kita, padahal pedang-pedang kita belumlah kering dari darah mereka.” Sebagian yang lain menggerutu, “Demi Allah sekarang beliau telah bertemu dengan kaum dan keluarganya sendiri.” Sa’ad bin Ubadah, pemimpin Anshar bersegera menyampaikan keluhan dan kekecewaan anak buahnya kepada Rasulullah. Mendengar ini, maka beliau meminta semua kaum Anshar berkumpul disuatu lembah. Hanya Anshar, dan bukan yang lain. Umar bin Khatab yang ingin ikut dalam pertemuan ini, ditolak. Terjadilah khutbah dan dialog ini.

Rasulullah memulai khutbah beliau dengan memuji Allah. Kemudian beliau bertanya kepada kaum Anshar, “Wahai kaum Anshar, bukankah ketika aku datang, kalian masih dalam keadaan sesat, kemudian Allah memberikan hidayah kepada kalian dengan perantaraanku? Bukankah ketika itu kalian masih saling bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku? Bukankah ketika itu kalian hidup menderita dan kekurangan, kemudian Allah membuat kalian kecukupan dengan perantaraanku?”

Setiap kali rasulullah bertanya, kaum Anshar menjawab, “Benar, Allah dan rasulNya lebih pemurah dan lebih utama.” Mendengar jawaban ini, Rasulullah menyanggah, “Wahai kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawab?” “apa yang harus kami katakan wahai Rasulullah? Dan bagaimana kami harus menjawab? Sesungguhnya kemulian adalah milik Allah dan rasulNya.” Tukas mereka.

Nabi SAW., melanjutkan, “Demi Allah jika kalian mau, kalian bisa menjawab yang sebenarnya, Anda datang kepada kami sebagai orang yang didustakan, kemudian kami benarkan Anda. Anda datang kepada kami sebagai orang yang dihinakan, kemudian kami bela dan muliakan Anda.  Anda datang kepada kami sebagai orang yang menderita, kemudian kami santuni anda.” Mendengar ini, semua kaum Anshar menyahut histeris, “Kemuliaan itu bagi Allah dan rasulNya.”

Rasulullah meneruskan, “wahai kaum Anshar, apakah kalian jengkel karena tidak menerima sejumput sampah keduniaan yang tiada arti, yang dengan sampah itu aku hendak menjinakkan sebuah kaum yang baru saja masuk Islam, sedangkan kalian telah lama berislam? Wahai kaum Anshar, apakah kalian tidak puas melihat orang lain pulang sambil menuntun kambing dan onta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang lebih baik daripada apa yang mereka bawa. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada ditanganNya, kalau bukan karena hijrah, niscaya aku termasuk golongan Anshar. Andai suatu kaum berjalan di sebuah lereng gunung dan kaum Anshar berjalan di lereng yang lain, niscaya aku akan berjalan di lereng yang ditempuh kaum Anshar.” Beliau lalu menutup khutbah dengan memohon kepada Allah, “Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, dan kepada para cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, tidak ada seorangpun dari kaum Anshar yang berdiri melainkan jenggotnya basah karena menangis. Serempak mereka menjawab, “kami rela mendapatkan Allah dan rasulNya sebagai bagian bagian kami.”

Apakah bisa kita menyangkal kebesaran rasulullah? Sungguh benar Allah ketika berfirman dalam surat al-Ahzab: 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad bagi yang merayakannya. Semoga Allah semakin membuat kita mencintai Allah dan rasulNya, dan menjauhkan kita dari maksiat. Allahumma amin.


 Sumber: ***

RAMBU-RAMBU BERDZIKIR

Ilustrasi dari Inet
Dalam berdzikir kita harus memperhatiakn rambu-rambunya, agar tidak menyalahi sunnah Rasulullah.Diantara rambu-rambu dalam berdzikir yang harus kita patuhi adalah:

1. Berdzikirlah dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar.
Yakni berdzikir dengan niat utama sebagai wujud ibadah kepada Allah, dan bukti keimanan tauhid kepada-Nya. Maka hindarilah, karenanya, tujuan-tujuan yang tidak syar’i dalam berdzikir. Seperti misalnya berdzikir dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan kesaktian, kekebalan, ”ilmu” kanuragan, ”ilmu ladunni”, ”ilmu karamah”, ”ilmu” menghilang, ”ilmu” mecah rogo (sehingga diyakini bisa tampil dimana-mana dalam waktu bersamaan), ”ilmu” menyingkap tabir ghaib, ”ilmu” menangkap jin, dan lain sebagainya, diantara motivasi-motivasi dzikir yang aneh-aneh dan tidak syar’i!

2. Utamakanlah berdzikir dengan dzikir-dzikir yang ma’tsur (yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam).
Disamping tentu juga dengan lafadz-lafadz dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim.

3. Bersikaplah selektif dan hati-hati terhadap paket-paket himpunan dzikir yang tidak ma’tsur.
Utamakan selalu merujuk pada kitab-kitab panduan dan himpunan dzikir yang jelas-jelas bersandar dan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misalnya salah satu kitab klasik standar terlengkap dalam hal himpunan dzikir adalah kitab ”Al-Adzkar” oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah. Disamping kitab-kitab kontemporer maupun klasik lainnya tentang himpunan dzikir-dzikir ma’tsur yang juga sangat banyak sekali.

4. Berdzikirlah dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna, yang mengandung makna tauhid, dan bahkan yang secara eksplisit menegaskan tauhid yang murni itu.
Karena tujuan dan maksud utama dari dzikrullah adalah menyebut Allah dalam konteks makna pengagungan, pujaan, pujian, pengesaan, dan semaknanya. Sehingga esensi dari dzikrullah sebenarnya adalah pengulang-ulangan deklarasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin. Oleh karena itu, seluruh contoh lafadz dzikir Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, adalah dengan kalimat-kalimat lengkap yang memberikan dan menunjukkan makna tauhid itu, secara eksplisit, jelas dan tegas. Seperti: Subhanallah (Maha Suci Allah); Al-hamdu lillah (Segala puji bagi Allah); La ilaha illah (Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar); Dan lain-lain.

5. Oleh karena itu janganlah mendominankan berdzikir misalnya dengan dzikir-dzikir yang hanya menyebut dan melafalkan nama saja apa adanya (al-ismul mufrad) diantara nama-nama Allah, misalnya berdzikir dengan hanya mengucapkan Lafzhul Jalalah ”ALLAH” saja yang diulang-ulang! Karena disamping tidak adanya contoh dzikir seperti itu diantara dzikir-dzikir ma’tsur yang sangat banyak sekali dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Juga karena dzikir dengan hanya menyebut nama ”Allah” begitu saja, belum memberikan makna iman dan tauhid secara jelas dan definitif, yang merupakan esensi dan tujuan dari ibadah dzikrullah. Melainkan hal itu masih tergantung dan terpulang pada niat dan maksud hati orang yang melafalkannya, apakah tujuannya menyebut nama ALLAH itu dalam konteks iman dan tauhid ataukah tidak? Jadi sifatnya sangat relatif sekali. Oleh karena itu, kaum musyrik Quraisy dulu yang sudah sangat terbiasa dan akrab sekali serta fasih sekali dalam mengucapkan Asma ALLAH, tetap lebih memilih perang daripada harus melafalkan dzikir tauhid ”LA ILAHA ILLALLAH”, meskipun hanya sekali saja! Ini bukan berarti tidak boleh berdzikir dengan dzikir lafdzul jalalah ”ALLAH…ALLAH…”! Sama sekali bukan demikian maksudnya! Namun yang ingin diingatkan disini adalah, jangan sampai itu yang justru lebih diutamakan, diprioritaskan dan didominankan dalam berdzikir! Disamping juga untuk menegaskan tentang jauhnya jarak dan perbedaan, baik secara nilai maupun pahala juga dampak, antara berdzikir dengan lafdzul jalalah ”Allah…Allah…” saja, dan berdzikir dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna seperti tasbih ”Subhanallah”, tahmid ”Al-hamdu lillah”, takbir ”Allahu Akbar”, apalagi tahlil ”La ilaha illallah”, dan seterusnya!

6. Sebaiknya sebisa mungkin dihindari segala bentuk pengkhususan dalam berdzikir, kecuali jika ada dasar dan landasan riwayat yang shahih atau alasan logis yang bisa dibenarkan. Dan hal itu baik berupa pengkhususan lafal-lafal dzikir tertentu, bilangan-bilangan tertentu, keyakinan akan fadhilah-fadhilah tertentu, waktu-waktu tertentu, maupun format serta tata cara tertentu dan semacamnya. Namun tentu tidak dinafikan potensi adanya khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam hal ini, yang tetap harus disikapi dengan hikmah, tepat dan proporsional berdasarkan kaedah-kaedah fiqhul-ikhtilaf (fiqih penyikapan terhadap perbedaan khilafiyah).

7. Demikian pula diutamakan tidak melakukan iltizam (peng-ajeg-an secara spesifik dan khusus) untuk dzikir-dzikir yang bersifat umum (tidak ada tuntunan pengkhususan sifatnya), khususnya ketika yang demikian itu disertai atau berpotensi menimbulkan persepsi atau anggapan bahwa, peng-ajeg-an dengan sifat tertentu tersebut merupakan bagian dari sunnah. Meskipun tetap harus diakui bahwa, masalah ini juga termasuk yang khilafiyah diantara para ulama.

8. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,”Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan lain-lain). Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir yang ideal dan sempurna adalah yang dilafalkan dengan lesan, tentu disamping tetap harus bersumber dari hati. Oleh karena itu sangat tidak benar pendapat yang mengatakan misalnya bahwa, puncak dzikrullah (dengan arti menyebut Nama Allah), adalah ketika yang “menyebut” itu hanya tinggal hati saja, seiring tarikan nafas dan sebanyak detakan jantung. Serta ketika sudah tidak ada lagi keterlibatan pengucapan lesan (?!) disana. Pendapat ini tentu saja sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena itu justru kebalikan dan bertentangan langsung dengan petuntuk Al-Qur’an dan tuntunan serta contoh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana kaidahnya bahwa, dzikir yang sempurna itu adalah yang tetap menggabungkan antara dzikir (ingatan dan kesadaran) hati dan dzikir (penyebutan dan pengucapan) lesan sekaligus!


Sumber: ***

Siapa Saja Yang Doanya Mustajab ?

Ilustrasi dari Inet
Siapa saja yang doanya mustajab ?

1. Setiap muslim yang berdoa bagi saudaranya sesama muslim dari kejauhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tidak seorang muslimpun berdoa dari kejauhan untuk saudaranya muslim lainnya, melainkan malaikat “petugas/penjaga” akan berucap: Aamiin, dan engkaupun akan mendapatkan yang seperti (isi doamu) itu pula” (HR. Muslim dari sahabat Abud-Darda’ ra.).


2. Doa orang yang terdzalimi/teraniaya. Salah satu pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra. saat diutus untuk berdakwah ke Yaman ialah sabda beliau (yang artinya): “Dan waspadalah terhadap doa orang yang terdzalimi. Karena tidak ada hijab penghalang antara doanya itu dan Allah” (HR. Al-Bukhari).

3. Doa seorang musafir.

4. Doa orang tua untuk anaknya, berupa doa baik atau doa buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Ada tiga doa yang mustajab, tanpa keraguan didalamnya: Doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani).

5. Doa anak yang saleh untuk kedua orang tuanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali dari tiga jalur amal: amal sedekah jariyah, ilmu yang tetap dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).Dan di dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat seorang hamba yang saleh di Surga, sampai sang hamba itu berkata: Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat setinggi ini? Maka Allah menjawab: Itu berkat doa istighfar putramu untukmu!” (HR. Ahmad, dan sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Katsir).

6. Doa orang yang sedang berpuasa sampai berbuka.

7. Doa pemimpin yang adil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiga orang yang doanya tidak tertolak adalah: orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terdzalimi/teraniaya. Allah mengangkatnya ke atas awan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman (yang artinya): “Demi keagungan-Ku, pasti Aku akan menolongmu meski setelah beberapa waktu” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

8. Doa orang mudhtharr (yang sedang dalam kesulitan, terhimpit, terdesak atau kepepet). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Atau siapakah (selain Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…?” (QS. An-Naml: 62).

9. Orang yang tidur dalam kedaan suci (berwudhu, insya-allah termasuk yang dalam keadaan junub dan berhalangan sekalipun) dan berdzikir kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tidak seorang muslimpun tidur malam dengan berdzikir kepada Allah dan dalam keadaan suci (berwudhu dan berdzikir sebelum tidur), lalu terbangun pada malam hari dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akherat, melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang dipintanya itu” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, serta dishahihkan oleh Al-Albani).

10. Orang yang berdoa dengan wasilah doa Nabi Yunus ‘alaihis-salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Doa Dzun-Nun (Nabi Yunus as.) yang dibaca saat berada di dalam perut ikan ialah: “La ilaha illa Anta, subhanaka, inni kuntu minadz-dzalimin” [Tiada tuhan yang berhak diibadahi secara benar kecuali hanya Engkau. Maha sucilah Engkau. Sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang dzalim/aniaya] – QS. Al-Anbiyaa’: 87-88). Sesungguhnya tidak seorang muslimpun berdoa dengan wasilah doa tersebut dalam hal apapun, kecuali Allah akan mengabulkannya” (HR. At-Tirmdzi dan lainnya dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

11. Doa orang yang berdzikir saat terbangun di tengah malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa terbangun di tengah malam lalu membaca dzikir ini: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadir. Alhamdu lillah, wa subhanallah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah (Tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah. Tiada tuhan yang benar kecuali Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah). Kemudian ia membaca istighfar: Allahummaghfirli (ya Allah ampunkanlah daku), atau berdoa dengan doa apapun. (Barangsiapa yang membaca dzikir tersebut lalu berdoa), maka doanya akan dikabulkan. Sedangkan yang lebih semangat lagi, lalu berwudhu (dan shalat), maka shalatnya diterima” (QS. Al-Bukhari).

12. Doa jamaah haji.

13. Doa jamaah umrah.

14. Doa mujahid yang berperang di jalan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Mujahid yang berperang di jalan Allah, jamaah haji dan jamaah umrah, adalah tamu Allah. Dia (Allah) mengundang mereka (untuk berjihad, berhaji dan berumrah), lalu merekapun menyambut undangan. Maka jika mereka berdoa memohon kepada-Nya, Dia-pun akan memenuhi doa permohonan mereka” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani).

15. Doa ahli dzikir (orang yang banyak berdzikir kepada Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiga orang yang (termasuk) doanya tidak tertolak adalah: orang yang banyak berdzikir kepada Allah, doa orang yang terdzalimi, dan pemimpin yang adil” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani, dan dihasankan oleh Al-Albani).

16. Doa waliyyullah (seorang mukmin yang telah sampai derajat dicintai oleh Allah karena derajat ketaatan dan kesalehannya yang tinggi serta istimewa). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman (dalam hadits qudsi – yang artinya): “Barangsiapa yang memusuhi seorang wali-Ku, maka Aku-pun memusuhinya. Dan tiada cara taqarrub (pendekatan diri) kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain dengan melakukan apa-apa yang Aku wajibkan. Dan (setelah yang wajib dan fardhu itu) hamba-Ku akan terus ber-taqarrub kepada-Ku melalui amal-amal nafilah (sunnah), sampai Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengaran untuk ia mendengar, penglihatan untuk ia melihat, tangan untuk ia beraktifitas, dan kaki untuk ia berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, pasti Aku penuhi permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi…” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.).

17. Selain itu sebenarnya setiap muslim atau muslimah siapapun dia tetap berpotensi doanya juga mustajab, selama syarat-syarat pengkabulannya terpenuhi, serta unsur-unsur penghalangnya terhindari. Apalagi jika ditepatkan dengan faktor-faktor pengijabahan doa, seperti waktu-waktu mustajab, tempat-tempat mustajab, situasi-situasi dan kondisi-kondisi mustajab, dan lain-lain. Perhatikan misalnya beberapa contoh firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang (siapapun dia) yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 186).

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mukmin/Ghaafir: 60).

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.).

“Doa seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi tidak kunjung dikabulkan juga’. Setelah itu, iapun merasa putus asa (mutung) dan tidak mau berdoa lagi.’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.).

“Tidak ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan; disegerakan pengabulan doanya (di dunia ini), atau disimpan pahalanya baginya (untuk diberikan) di akhirat kelak, atau ia dijauhkan dari keburukan yang setara nilainya (dengan yang dipinta)”. Para sahabat berkata: “Jika demikian kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja”, beliau bersabda: “Allah memiliki yang lebih banyak (sebagai balasan dan pengkabulan” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).



Sumber: ***

10 Penghalang Keterkabulan Do’a

Ilustrasi dari Inet
Seorang lelaki pernah mengadu kepada syekh Ibrahim bin Adham, “Mengapa kami sering berdo’a namun do’a-do’a kami tak kunjung terkabul.”

Syekh yang zuhud itu menjawab,
“Karena kalian telah mengenal Allah SWT sebagai Tuhan kalian, tapi kalian tidak mentaati aturan-Nya.

Kalian telah memahami bahwa Rasul adalah (panutan hidup), tapi kalian enggan mengikuti jalan hidupnya.

Kalian tahu bahwa al Qur’an adalah pedoman hidup, tapi kalian tidak mengamalkan petunjuknya.

Kalian telah mengecap berbagai nikmat pemberian Allah SWT, tapi kalian jauh dari nilai kesyukuran.

Kalian merindukan surga, tapi kalian tak mau mengejarnya.

Kalian takut kepada neraka, tapi kalian tiada lari darinya.

Kalian tahu bahwa setan itu adalah musuh, tapi kalian tidak mau memeranginya dan bahkan kalian mengikuti ajakannya.

Kalian yakin bahwa kematian itu pasti (kedatangannya), tapi kalian tidak menyiapkan diri untuk menyambutnya.

Kalian telah banyak memakamkan jenazah, tapi kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.

Dan kalian mengabaikan aib diri sendiri, namun kalian sibuk mengumpulkan aib orang lain.”

Wallahu a’lam bishawab..mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari nasehat ulama yang zuhud ini. Amien.



Sumber:  ***

Jodoh Dan Keajaiban Istighfar

Saatnya berbagai cerita: Cerita berikut ini diangkat dari kisah seorang gadis yang mengharapkan pasangan (yang bisa dibilang perfect-man). Langsung saja disimak ya...
Soal jodoh dan pernikahan adalah masalah yang paling mendominasi perhatian dan pemikiran umumnya gadis yang telah cukup umur dan siap menikah. Disamping karena memang begitulah fitrahnya, juga itulah materi pertanyaan dan bahan “interogasi” yang hampir selalu diajukan oleh berbagai pihak kepada setiap gadis yang dinilai “sudah waktunya”, lebih-lebih jika usianya dianggap telah masuk kategori “tertinggal kereta”, karena sudah memasuki masa usia “kritis” bagi seorang gadis!

Begitu pula denganku. Sebagai seorang gadis normal yang telah cukup usia, tentu akupun seperti yang lainnya, ingin segera mendapatkan jodoh dan memasuki jenjang dan tahapan kehidupan yang termasuk paling menentukan, yakni jenjang pernikahan dan tahapan hidup berkeluarga.

Tapi disaat yang sama aku juga tetap harus selektif. Aku memang ingin secepatnya menikah, namun aku juga tidak ingin dapat suami yang “sembarangan”. Bahkan dalam hal ini mungkin dibilang aku termasuk yang perfect. Karena memang kriteria yang aku patok untuk calon suamiku cukup tinggi, nyaris sempurna. Ya, aku memang “mensyaratkan” calon imamku dalam keluarga dan calon bapak anak-anakku nanti insya-allah, tidak sekadar sosok yang saleh dalam dirinya saja, melainkan juga sekaligus harus “mushlih”, yakni aktivis dakwah yang punya komitmen dan kontribusi riil dalam upaya untuk mensalehkan orang lain, masyarakat dan kehidupan. Disamping itu ia haruslah seorang yang berilmu dan berpengetahuan syar’i yang mumpuni. Dan last but not least, sejak lama aku selalu mengharap-harap datangnya seorang calon suami yang “mujahid”, yakni yang menyimpan gelora semangat “jihad” dalam rangka membela dan memperjuangkan dinullah, serta memiliki andil nyata di dalamnya, sesuai ketentuan syariah dan tuntutan realita kondisi dan situasi yang ada.

Nah, demi tergapainya cita-cita itu, akupun tak pernah henti selalu berharap dan tentu saja sekaligus menempuh beragam upaya dan usaha yang syar’i sesuai batas kemampuan yang kumiliki. Dan diantara upaya dan usaha itu adalah doa dan munajat, yang tak putus-putus senantiasa kupanjatkan kepada Allah Ta’ala, di setiap waktu dan kesempatan, siang dan malam, pagi dan petang.

Dan empat tahun lamanya doa-doa permohonan khusus untuk jodoh ini secara istiqamah selalu aku lantunkan, namun pemuda “shalih – mushlih – mujahid” yang kutunggu-tunggu itu tak jua kunjung datang. Sampai akhirnya aku mendengar tentang keajaiban fadhilah istighfar dan kedahsyatan pengaruhnya sebagai wasilah istimewa bagi terwujudnya beragam keinginan, cita-cita dan harapan.

Maka sejak saat itu, akupun kemudian lebih mengutamakan dan mendominankan dzikir serta doa istighfar ini daripada yang lain. Sehingga hari-hari hidupkupun menjadi hari-hari penuh istighfar dan tobat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penerima tobat. Dan lafal istighfar favorit yang biasa aku baca dan lafalkan adalah istighfar dari Nabi SAW. ini: “Astaghfirullahal-ladzi la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilaih” (Aku bersitighfar memohon ampun kepada Allah, Yang tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya). Biasanya aku melafalkan istighfar itu sampai 1500 kali. Selain itu aku juga menambah dengan lafal yang lebih pendek: “Astaghfirullah, wa atubu ilaih” (Aku beristighfar memohon ampun kepada Allah, dan aku bertobat kepada-Nya).

Dan subhanallah. Istighfar memang benar-benar ajaib dan dahsyat. Setelah enam bulan dari istighfar khususku itu, jodoh yang telah cukup lama kuharap-harap dan kunanti-nanti itupun akhirnya datang juga. Dan hampir persis dengan seluruh kriteria “perfect”-ku yang telah kusebutkan diatas. Beliau seorang yang insya-allah saleh, aktivis dakwah, bergelar doktor di bidang ilmu hadits, dan sekaligus seorang yang di mataku pantas menyandang titel mujahid. Bahkan seperti harapanku, ternyata beliau juga berasal dari suku yang sama denganku… Subhanallah…!

Akupun tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah atas karunia istimewa-Nya, dan sekaligus berharap semoga selanjutnya pernikahan dan kehidupan rumah tangga kami selalui dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala sisi dan aspeknya…! Aamiin ya Rabbal-’alamin…!

Catatan: Mohon jangan sampai ada yang salah paham terhadap kandungan alur kisah diatas, sehingga keliru menyangka misalnya bahwa, dzikir dan doa dengan berbagai macamnya, secara mutlak tidak seefektif dan tidak sebesar pengaruh istighfar! Perlu diingatkan bahwa, semuanya, baik dzikir, doa, istighfar dan lain-lain, pada dasarnya memiliki potensi pengaruh yang sama sebagai wasilah guna mewujudkan keinginan dan menggapai harapan kepada Allah. Yang membedakan pengaruh amalan-amalan itu, satu sama lain, sebenarnya adalah kondisi masing-masing orang, dipadu dengan faktor cocok atau tepat tidaknya jenis amalan yang dipilihnya. Sehingga seperti kasus kisah sang gadis diatas misalnya, mungkin memang istighfarlah yang lebih cocok dan lebih tepat untuk kondisinya. Sementara itu untuk banyak orang yang lainnya, boleh jadi sebaliknya, justru dzikir tertentu atau doa tertentu atau amalan tertentu lain lagi, yang lebih cocok, lebih tepat, lebih “klik”, dan lebih efektif!


 Sumber: ***