Selasa, 31 Januari 2012

Riset: Pertengkaran Kunci Langgengnya Pernikahan


img
dok. Thinkstock

Jakarta - Tidak selamanya pertengkaran rumah tangga berdampak negatif. Menurut penelitian terbaru, beda pendapat antara sang suami dan istri justru bisa jadi kunci utama sebuah pernikahan yang langgeng.

Penelitian dari India menjelaskan bahwa berdebat setiap seminggu sekali tanpa menggunakan kekerasan fisik memiliki efek positif bagi kelanggengan pernikahan. Para peneliti menemukan, 44 persen pasangan menikah percaya bahwa pertengkaran dapat membantu menjaga agar 'jalur' komunikasi tetap efektif dan terbuka.

Temuan yang dilakukan oleh situs percintaan Shaadi dan lembaga riset pasar IMRB tersebut, semakin menjelaskan hasil penelitian sebelumnya. Penelitian di Amerika mengungkapkan, pertengkaran atau membahas masalah dengan benar dapat membuat hubungan jadi bebas stres.

Walau begitu, William Doherty, seorang profesor di University of Minnesota mengatakan bahwa ia tidak membenarkan sebuah perkelahian karena bisa membuat hubungan menjadi tak sehat. Baginya, ada pertengkaran yang bermanfaat, ada pula yang berbahaya. Namun tidak pernah berdebat juga bisa merusak hubungan.

"Apa yang telah terungkap dalam penelitian, pertengkaran bukan mengenai kemarahan tapi bagaimana mereka menangani masalah," ujar Doherty, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Menurut pakar perkawinan lainnya, yang seringkali membahayakan kehidupan rumah tangga adalah keengganan pasangan untuk membahas permasalahan. Oleh karena itu, pertengkaran disebut-sebut sebagai cara terbaik untuk menanganinya, daripada menyembunyikan masalah.

"Paling tidak mereka mencoba mengatakan kepada pasangannya. Terkadang ada juga kasus 'pertengkaran hebat' dan kita harus lebih tenang saat itu terjadi. Tapi tetap saja itu lebih baik ketimbang mereka hanya duduk diam. Itu lebih menghancurkan," kata Bernie Slutsky, konselor pernikahan di Minnesota, Amerika.

Bahkan menurut Bernie, melakukan perdebatan di depan anak merupakan hal yang baik. Tentunya, perdebatan itu dilakukan dengan rasa hormat dan bijaksana, sehingga anak-anak bisa mengambil 'pelajaran' dari pertengkaran orangtuanya.

Melakukan perdebatan di depan anak, juga bisa menjadi strategi yang tepat untuk dapatkan pertengkaran yang sehat. Sang suami dan istri 'terpaksa' harus menahan diri agar tidak saling menyalahkan atau bersikap defensif.

(eya/eya)***

Sumber:  ***

Jumat, 27 Januari 2012

Promosikan Website Atau Blog Anda Melalui Artikel Ini. GRATIS...!!!

Anda ingin Agar Link ke Blog Anda nempel terus dan dibantu promosikan oleh 1 juta orang lebih? Jika Ya, maka Anda dapat menggunakan iklan dengan Faktor Kali. Cara Kerjanya sangat sederhana. Anda mendaftar di link yang akan saya sebutkan beberapa saat lagi. Kemudian langsung LOGIN dan isi Data Anda meliputi Blog Anda, judul Blog Anda dan keterangan singkat tentang Blog Anda tersebut. Segera setelah itu anda akan punya WEBSITE REPLIKA KHUSUS dengan id Anda yang unik untuk Anda promosikan. Saran saya letakkan saja link link ini di blog Anda agar orang lain dapat mengikuti.

Anda pasti sangat mudah mengajak orang untuk mendaftar, karena semua orang butuh promosi, setiap orang ingin iklan mereka tersebar dengan cepat. Ok, anggaplah anda telah mulai mempromosikan website replika Anda tadi. Kita asumsikan 2 orang teman Anda sudah Gabung melalui link Anda!. 2 Orang ini disebut Level 1 Anda. Setelah itu promosi otomatis Anda akan mulai segera bekerja sendiri bagaikan autopilot. Mengapa? Karena link ke blog Anda tadi NEMPEL pada website 2 orang member Anda tadi. Sekarang Anda mulai dibantu promosi oleh 2 orang!. 2 Orang member Anda tadi juga bisa mengerjakan cara yang sama, mereka mengajak masing-masing 2 teman mereka, berarti ada tambahan 4 orang kan?. 4 Orang ini disebut Level 2 Anda. Total Jumlah member Anda sekarang menjadi 6. Kemudian ini berlanjut terus, 4 orang baru yang di level 2 Anda tadi juga mengajak 2 teman mereka, tambah 8 (Level 3). Sekarang Anda telah dibantu oleh 14 orang. Link Ke Blog Anda dibawa oleh 14 orang, padahal Anda hanya ngelink ke tempat saya satu kali bukan? Ini terus berlanjut!

Ternyata jika Anda mendaftar setelah ini, memasukkan informasi blog Anda, kemudia saya mengajak 2 orang saja maka iklan Anda dapat dibawa bukan oleh 1 juta orang lebih melainkan 2 Juta orang lebih! Promosi Anda yang sederhana bisa membuat iklan Anda NEMPEL pada sebanyak itu orang. Gratis pula!.
Anda tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Silahkan bergabung sekarang juga klik disini.

Selamat mencoba dan Semoga bermanfaat.

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif (Penelitian Tindakan Kelas)



BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Upaya kongkrit dalam meningkatkan mutu pendidikan telah menjadi fokus pemerintah, perbaikan kurikulum, pemerataan tenaga pendidik, pelatihan dan keterampilan, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan adalah langkah yang telah dilakukan. Sejalan dengan itu, diikuti dengan lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peran utama masyarakat sebagai stake holder pendidikan tidak dapat mendukung berbagai program yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Masyarakat lebih mempertanyakan dan menuntut pemerintah untuk memenuhi segala kebutuhan dunia pendidikan. Sementara peran serta elemen masyarakat dalam menjalankan berbagai program dirasa sangat kurang.

Sejalan dengan UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25 Tahun 2002 tentang otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah membuka peluang bagi masyarakat menjadi pelaku dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang pada masyarakat. Menurut Hudoyo (1999: 5) pola pendidikan diserahkan pada sekolah itu sendiri, karena : 1) sekolah lebih mengetahui potensi dan pola pengembangan potensi dalam sekolah tersebut, 2) pengembangan potensi sumber daya sekolah dapat sentuhan lebih dalam, perhatian yang diberikan ke sekolah secara lebih intensif.

Guru mempunyai peran penting dalam proses pelaksanaan pendidikan, interaksi antara guru dan anak didik menuju peserta didik yang lebih kompeten adalah tuntutan utama. Selama ini menurut Sidi (2003: 49) pendidik hanya mengeluhkan tentang : 1) hanya memiliki target maksimal dalam upaya pengajaran, yaitu siswa dapat mengerjakan soal saat ujian. 2) pendidik tidak suka beralih dalam melakukan pengajaran dari sistem yang pernah diterapkannya. 3) pendidik sering mengeluh tentang kurangnya buku-buku teks dalam upaya menambah referensi dalam melakukan pengajaran. 4) pendidik tidak merefleksikan kekurangan pengalaman mengajar yang pernah mereka lakukan dan kekurangan itu diketahuinnya. 5) kecenderungan pendidik dalam melakukan pengajaran “hanya” memindahkan informasi dan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya dari buku-buku teks saja. Sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan, kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi (KBK), kemudian disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Kelemahan selama ini dalam pembelajaran adalah penyampaian materi oleh pendidik dalam kelas hanya bersifat satu arah (metode ceramah). Hamalik (2003: 201) berpendapat bahwa dalam rangka meningkatkan hasil belajar, usaha yang dapat dilakukan oleh pendidik adalah mengoptimalkan potensi siswa. Di mana metode belajar harus dititik beratkan pada kegiatan siswa pada proses pembelajaran. Zamroni (2003: 64) memberikan sebuah gagasan untuk menerapkan metode belajar dengan “cooperative collaboration”. Model ini memiliki aktivitas siswa berkelompok tanpa memperhatikan ras, agama, dan latar belakang ekonomi. Kegiatan siswa diserahkan oleh pendidik untuk mencapai tujuan bersama (pembelajaran) yang merupakan konsensus di antara mereka. Disamping tujuan bersama yang akan dicapai bersamaan dan kerja sama dalam proses pembelajaran, hal ini dapat diarahkan untuk mengembangkan kemampuan kerjasama di antara para siswa.

Pada proses pembelajaran cooperative collaboration, pendidik tidak hanya memberikan tugas-tugas secara individu, tetapi tugas secara kelompok. Sistem penilaian yang dapat diterapkan bukan hanya berdasarkan kemampuan individu, tetapi juga akan dilihat berdasarkan hasil prestasi kelompok. Penerapan metode ini sejalan dengan empat visi UNESCO yaitu : 1) learning to think, 2) learning to do, 3) learning to live together, 4) learning to be (Sidi, 2003: 26).

Sedangkan dalam kenyataan di SMA Pembangunan Padang masih banyak siswa yang tidak aktif dalam diskusi, siswa yang jarang sekali mengemukakan pendapat/argumen, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Padahal aktivitas siswa dalam diskusi seperti halnya mengemukakan pendapat dan argumen, bertanya atau pun memberi saran sangat diperlukan tidak hanya untuk mencari nilai tetapi dengan keaktifan tersebut siswa dapat membagi pengetahuan dan wawasan sehingga informasi menjadi merata. Apalagi dalam pembelajaan sosiologi yang cakupannya bukan hanya individu dan kelompok, tetapi juga masyarakat. Untuk mempelajarinya tidak hanya bisa dari buku teks saja tetapi juga harus melihat kenyataan yang terjadi di luar kelas. Oleh karena itu diperlukan aktivitas siswa untuk membagi semua pengetahuan, wawasan dan materi yang ia pelajari.

Menyikapi permasalahan tersebut maka perlu penerapan metode baru sebagai upaya dalam memecahkan masalah. Metode pengajaran cooperative collaboration merupakan salah satu alternative yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang ada. Metode ini dipakai oleh pengajar untuk menjadikan siswa lebih aktif dan mampu menarik (menyimpulkan) keputusan sendiri dari proses pembelajaran. Pada mata pelajaran sosiologi banyak hal yang harus diketahui oleh siswa. Untuk menerapkan metode ini, seorang pengajar harus dapat merangsang pemikiran siswa untuk berdiskusi dan menarik keputusan sendiri dengan mengoptimalkan semua alat indra, seperti mata, telinga, pikiran dalam mengerjakan sesuatu. Silberman dalam Zaini Dkk (2002: 112), berpendapat bahwa belajar lebih bermakna dan bermanfaat bila siswa menggunakan semua alat indra untuk mengelola informasi dan ditambah mengerjakan ssesuatu. Dari uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang ” Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Dengan Menerapkan Metode Belajar Cooperative Collaboration”.

B.    Identifikasi Masalah
Bertitik tolak pada latar belakang di atas maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut :
1.    Pola pembelajaran yang selama ini diterapkan belum dapat mengaktifkan siswa dalam upaya pembelajaran dan penyerapan materi pembelajaran.
2.    Interaksi antara siswa dengan siswa dan interaksi siswa dengan guru sangat minim sekali hal ini dapat menyebabkan pembelajaran di kelas menjadi monoton.

C.    Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya pemecahan masalah serta untuk lebih memfokusnya pembahasan, peneliti membatasi pada poin kedua yaitu interaksi siswa dengan siswa dan interaksi siswa dengan guru yang sangat minim sekali dan menyebabkan suasana pembelajaran menjadi monoton.

D.    Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang penulis angkat, yaitu “Apakah terdapat peningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode belajar cooperative collaboration pada mata pelajaran sosiologi kelas XI di SMA PEMBANGUNAN UNP PADANG?”.

E.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu guru dapat meningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode belajar cooperative collaboration.

F.    Manfaat Penelitian
1.    Sebagai sumbangan wacana baru dalam mencari alternatif metode pembelajaran yang lebih dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.    Sebagai bahan pertimbangan bagi pengajar dalam penyampaian materi yang dapat merangsang siswa lebih aktif dalam pembelajaran sosiologi.
3.    Sebagai bekal bagi penulis jika turun ke lapangan pendidikan nantinya.

Untuk melihat BAB II silahkan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif (Penelitian Tindakan Kelas)

Lanjutan dari halaman sebelumnya: BAB I
BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Motivasi Belajar

a.    Pengertian Motivasi
Kata motivasi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moelieno, 1990: 593) memiliki dua pengertian yaitu:
1.    Dorongan yang lembut pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
2.    Usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang pengertian motivasi, Julaika Yusuf (1987: 73) mengartikan bahwa, motif adalah kekuatan yang membangkitkan dan mengarahkan kelakuan seseorang, sedangkan motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas guna mencapai tujuan“.

Ungkapan di atas sesuai dengan pendapat Sardiman (1986: 74) menuliskan bahwa Mc. Donal menyatakan: “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap tujuan”. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan atau energi penggerak yang mengarahkan dan memperkuat tingkah laku seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya. Dengan demikian individu termotivasi untuk melakukan suatu aktifitas atau tindakan, manakala aktifitas itu dapat memenuhinya.

b.    Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut, baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Sadiman, 2003: 1-2). Proses belajar dapat terjadi kapan dan dimana saja terlepas dari adanya yang mengajar atau tidak. Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Lebih lanjut Sardiman (2001: 20) menyatakan belajar merupakan perubahan tingkah laku dan penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya.

c.    Motivasi belajar siswa
Dalam belajar ada beberapa hal yang dapat menghambat dan mendorong seseorang melakukan perbuatan belajar atau disebut juga dengan hal-hal yang mempengaruhi seseorang dalam belajar. Hal-hal yang mempengaruhi tersebut baik berupa pendorong ataupun yang menghambat seseorang dalam belajar itu bisa berasal dari diri orang itu sendiri atau dari luar dirinya. Secara internal ataupun eksternal banyak faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang. Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang tersebut. Faktor internal itu bisa berupa keadaan psikis atau mental seperti minat, bakat, kepuasan, dan faktor psikologis lainnya .

Adapun faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang. Faktor eksternal ini dapat berasal dari kondisi fisik maupun lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang mempengaruhi motivasi seseorang bisa lingkungan fisik sekolah, lingkungan sosial sekolah, dan lingkungan keluarga, seperti dinyatakan oleh Prayitno (1989: 133) bahwa: Lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap minat dan kemauan siswa/ mahasiswa dalam belajar adalah lingkungan sekolah dan keluarga atau orang tua. Lingkungan sekolah yang dimaksud adalah khusus mengenai lingkungan fisik dan sosial yang terdapat di dalam kelas atau sekolah pada umumnya. Lingkungan fisik sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan rasa aman, nyaman, dan memberikan fasilitas belajar sangat banyak menunjang minat siswa dalam belajar.

Sedangkan Sumanto (1983: 38) mengemukakan tiga hal yang mempengaruhi motivasi seseorang dalam belajar yaitu :
a.    Faktor stimuli dalam belajar yaitu hal di luar individu yang merangsang untuk belajar seperti bahan belajar, kesulitan bahan pelajaran berartinya bahan dan berat ringannya tugas.
b.    Faktor metoda belajar seperti kegiatan belajar dan praktek pengenalan tentang hasil belajar, belajar dengan keseluruhan atau bagian-bagian serta bimbingan dalam belajar.
c.    Faktor yang berasal dari diri individu sendiri seperti kematangan, kapasitas mental, keinginan untuk mengembangkan kreatifitas mental.

Lebih lanjut Prayitno (1989: 62-90) mengungkapkan bahwa terdapat 8 motivasi di dalam kelas yaitu (1) motivasi tugas, (2) motivasi aspirasi, (3) motivasi persaingan, (4) motivasi afilasi, (5) Motivasi kecemasan, (6) motivasi menghindar (7) motivasi penguatan (8) motivasi yang diarahkan diri sendiri. Pada motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri (siswa), siswa menunjukkan tingkah laku yang mandiri dalam belajar.

Berdasarkan kutipan di atas dapat diidentifikasikan indikator-indikator tentang motivasi siswa yang berkaitan dengan meningkatnya pembelajaran mandiri dalam belajar siswa yaitu:

a.    Aktivitas positif
1.    Bertanggung jawab terhadap tugas
2.    Tepat waktu dalam pelaksanaan tugas
3.    Berusaha menemukan jawaban dari permasalahan yang ada
4.    Disiplin waktu
5.    Bertanya kepada guru tentang kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas
6.    Ulet dalam melaksanakan tugas
7.    Bekerja mandiri tanpa bantuan orang lain
8.    Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini

b.    Aktivitas negatif
1.    Ribut selama proses belajar mengajar
2.    Jalan-jalan selama jam pelajaran
3.    Sering keluar masuk selama PBM
4.    Menganggu teman selama PBM
5.    Murung atau tidak bersemangat

Siswa dikatakan termotivasi jika aktifitas yang dilakukan siswa dominan aktivitas positif dan cendrung sedikit aktivitas negative. Sebab motivasi merupakan motif yang mendorong  untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan ungkapan Prayitno (1989: 4) “siswa yang termotivasi untuk belajar akan tertarik dengan berbagai tugas belajar yang yang sedang mereka kerjakan, menunjukkan ketekunan yang tinggi: variasi aktivitas belajar yang lebih banyak, dan tidak melakukan hal yang menyimpang.

Motivasi memiliki fungsi yang sangat penting dalam pembelajaran. Hal ini dijelaskan oleh Hamalik (2005: 161) bahwa motivasi berfungsi untuk:
1.     Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Tampa motivasi maka tidak akan timbul perbuatan seperti belajar
2.    Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan
3.    Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia  berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi sangat penting dalam belajar. Seorang termotivasi dalam belajar mata pelajaran sosiologi. Jika dalam belajar sosiologi tersebut menjadi kebutuhan bagi mereka. Motivasi belajar siswa dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan mereka.

B.    Pembelajaran Kooperatif
1.    Pengertian Pembelajaran Cooperative
Model belajar Cooperative Learning pembelajaran kelompok akan tetapi tidak semua pembelajaran kelompok dapat dikatakan Cooperative Learning. Pembelajaran Cooperative Learning adalah pembelajaran kelompok yang terstruktur, artinya pembelajaran ini menuntut perencanaan sebaik mungkin oleh guru, sebelum disampaikan kepada siswa dan terjadi interaksi antara siswa dan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran cooperative didasarkan pada prinsip gotong royong, membutuhkan partisipasi dan kerjasama kelompok dalam aktivitas kelas.

Jhonson dalam Ediza (1994: 5) mengemukakan bahwa pelaksanaan pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil, siswa bekerjasama dalam bentuk segala pengalaman belajar baik dalam pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Model dan penerapannya pada dasarnya lebih dari sekedar belajar berkelompok secara konvensional yang selama ini banyak diterapkan guru. Dimana aktivitas pembelajaran di kelas dibentuk dalam beberapa kelompok kecil kemudian guru memberikan tugas dan siswa diminta untuk mengerjakan tugas tersebut dengan bersama-sama dalam satu kelompok.

2.    Ciri-ciri Pembelajaran Cooperative
Ibrahim (2006: 6) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif (a) siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi pembelajaran; (b) kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tertinggi, sedang, dan terendah; dan (c) anggota kelompok terdiri dari ras, budaya dan jenis kelamin yang berbeda. Menurut Lie (2002:12) pembelajaran kooperatif mempunyai 5 unsur penting yang harus diterapkan agar pembelajaran cooperative dapat berhasil dengan maksimal yaitu: 1) saling ketergantungan positif sesama, 2) tanggung jawab perorangan dalam upaya tugas yang diberikan kelompok, 3) kegiatan interaksi tatap muka dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk sikap yang menguntungkan semua anggota, 4) komunikasi antar anggota dalam memberikan argumen tentang hal-hal yang berkitan dengan tugas pembelajaran yang dibebankan kepada kelompok pembelajaran, dan 5) evaluasi tugas kelompok dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil belajar dan kerjasama kelompok dengan demikian kelompok akan dapat lebih bekerjasama secara efektif.

3.    Model belajar “Cooperative Collaboration”
a.    Pengertian Cooperative Collaboration
Dalam kamus bahasa inggris karya John M Carlos dan Hasan Sadily (Cetakan ke XXIV), Cooperative artinya bekerjasama atau bersama-sama sedangkan Collaboration artinya kolaborasi atau gabungan. Sedangkan Cooperative Collaboration menurut Zamroni (2003) adalah suatu sistem pembelajaran yang memiliki aktivitas siswa secara berkelompok dan lebih menekankan diskusi antara siswa dengan kelompok dan siswa dengan guru dalam upaya membelajarkan siswa dengan pengalaman belajar yang mereka miliki. Sistem pembelajaran ini lebih menekankan pada siswa untuk dapat mencerna dan mengemukakan sebuah hasil bahasan materi pelajaran.

b.    Penerapan pembelajaran Cooperative Collaboration
Pembelajaran Cooperative Coolaboration adalah pola pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Dimana pola ini lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran yang lebih melibatkan siswa. Guru pada hakikatnya adalah pembelajar senior dan siswa adalah pembelajar junior dengan demikian, pembelajar senior akan selalu menuntun dan mengarahkan juniornya (Rosyada, 2004).

Guru dalam pembelajaran akan merangsang siswa dan siswa akan belajar mengenai strategi belajar yang dimilikinya. Pembelajaran bersifat kerjasama dengan kelompok, sehingga akan memahami suatu materi pelajaran. Hal ini diperkuat dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suryosubroto (1997) bahwa proses pembelajaran pada hakikatnya mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan siswa, di antara kemampuan siswa dalam mengamati menginterpretasikan, meramalkan, dan aplikasi konsep dari ilmu yang telah dipelajarinya.

C.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan hal-hal yang dibahas dalam kajian teori di atas maka penulis mengajukan hipotesis yaitu “terdapat peningkatan motivasi belajar siswa dalam penerapan metode belajar cooperative collaboration pada mata pelajaran sosiologi di SMA Pembangunan UNP Padang”.
Untuk mengakses BAB III silahkan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif (Penelitian Tindakan Kelas)

Lanjutan dari halaman sebelumnya: BAB II

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Pembangunan UNP Padang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Mei 2012 (semester II tahun pelajaran 2011/2012). Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas.

B.    Populasi dan Subjek Penelitian

Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas XI di SMA Pembangunan UNP Padang. Jumlah seluruh siswa kelas XI  yang terdaftar pada tahun 2011-2012 sebanyak 38 siswa. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik total sampling, artinya semua populasi dijadikan sampel sebagai subjek penelitian. Pengambilan sampel bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Populasi dan subjek penelitian
No    Siswa    Populasi    Sampel
1    Laki-laki    27    27
2    Perempuan    11    11
    Jumlah    38    38

C.    Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian praktik dalam bentuk penelitian tindakan (action research) dengan jenis diagnotik. Menurut Arikunto (1999) penelitian tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh dosen atau guru. Dengan adanya penelitian tindakan kelas tenaga pengajar dapat memprediksi dan mengarahkan perkembangan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh tenaga pengajar.

D.    Prosedur Penelitian

1.    Perencanaan
Menurut Arikunto (2000) rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang tersususun dan teratur yang akan diterapkan dalam sebuah tindakan. Dalam penelitian ini rencana penelitian yang akan diaplikasikan dalam penelitian adalah:
Kegiatan awal 
  1. Peneliti mempelajari silabus mata pelajaran yang akan diajarkan pada peserta didik.
  2. Mempersiapkan segala sesuatu yang nantinya dibutuhkan dalam kegiatan observasi seperti belangko observasi, media pembelajaran.
  3. Membuat modul bahan ajar tentang sub kompetensi yang akan diajarkan.
  4. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa dan memotivasi siswa dengan menerapkan standar kompetensi siswa sebagai tujuan dari pembelajaran.
  5. Mengajukan pertanyaan pada siswa (seberapa dalam pengetahuan siswa tentang kompetensi yang akan dipelajari).
Kegiatan inti (penerapan metode belajar cooperative collaboration)
  • Memberikan test awal pada siswa tentang kompetensi yang akan diajarkan
  • Mengelompokkan siswa menjadi 4-5 kelompok dalam kelas
  • Membagikan modul pada siswa
  • Menjelaskan materi kepada siswa tanpa menggunakan media pembelajaran
  • Menganjurkan siswa untuk berdiskusi tentang materi sub kompetensi yang telah dijelaskan
  • Mengumpulkan hasil diskusi kelompok
  • Salah satu kelompok dianjurkan untuk mempresentasikan hasil diskusi yang telah dilakukan
  • Dianjurkan pada kelompok yang tidak presentasi untuk memberikan pertanyaan, tanggapan, atau sanggahan pada kelompok yang presentasi
  • Mendiskusikan hasil diskusi kelompok dan hasil presentasi dengan guru
  • Dianjurkan pada siswa menarik kesimpulan setelah diskusi dengan kelompok dan guru yang telah dilakukan sebelumnya
Kegiatan akhir 
  1. Memberikan tes akhir setelah pembelajaran
  2. Mengevaluasi kegiatan pembelajaran sebagai pedoman dalam pembelajaran selanjutnya

2.    Tindakan
Menurut Madya (1994: 20), action atau tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah upaya yang dilakukan secara sadar dengan perencanaan yang matang. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah aplikasi dari perencanaan yang telah direncanakan. Tindakan yang akan dilakukan adalah:
a.    Membagikan bahan ajar
b.    Menjelaskan materi pelajaran
c.    Memberikan tes awal dan tes akhir pada siswa
d.    Memantau siswa dalam pembelajaran dan arahan bila terjadi sesuatu kendala pada siswa
e.    Berdiskusi dengan siswa

3.    Pemantauan (Observasi)
Menurut Madya (1994: 22) observasi dilakukan untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan yang berkaitan. Pemantauan dilakukan oleh peneliti dengan mencatat segala sesuatu yang terjadi pada lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya, pemantauan dilakuakan ketika jam pembelajaran sedang berlangsung (dilakukan dari awal sampai akhir). Hal-hal yang dilakukan pengamatan meliputi:

Aspek siswa
a.    Keadaan siswa dalam kelas ketika terjadi interaksi pembelajaran yang dilakukan
b.    Keadaan siswa ketika diskusi
c.    Keaktifan siswa dalam memberikan tanggapan dan pertanyaan pada siswa lain
d.    Prilaku siswa dalam pembelajaran
e.    Kerjasama kelompok dalam menyelesaikan pokok bahasan dalam diskusi

Aspek pembelajaran
a.    Kesesuaian perencanaan pembelajaran yang direncanakan
b.    Kondisi kelas saat pembelajaran
c.    Pelaksanaan evaluasi

4.    Refleksi

Refleksi menurut Arikunto (2000: 29) adalah mendapatkan data hasil pengamatan yang telah dilakukan dan kemudian dijadikan dasar dalam menentukan tindakan selanjutnya. Sedangkan menurut Madya (1994: 23) refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan yang persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, dan persoalan serta tindakan dalam tindakan strategi.

Refleksi yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data secara kuantitatif (nilai-nilai siswa pada tes awal dan tes akhir) dan data secara kualitatif yaitu dengan menggunakan catatan-catatan pada lembar observasi. Dengan adanya kegiatan ini akan didapatkan sebuah hasil yang dapat disesuaikan dengan hipotesis serta titik tolak bagi pelaksanaan atau siklus selanjutnya.

E.    Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian tindakan kelas yang akan direncanakan, menurut Madya (1994: 33) catatan anekdot adalah deskriptif tentang apa yang perseorangan dalam situasi nyata tertentu dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Dalam upaya merealisasikan penelitian ini maka peneliti akan membuat catatan anekdot sebagai gambaran dalam melakukan analisis data lebih mendalam. Catatan yang mencakup catatan lapangan dan segala kejadian dalam pembelajaran. Format dokumenter digunakan untuk mentabulasi hasil test yang telah diberikan. Format dokumentasi dipergunakan untuk mengumpulkan segala arsip yang akan dianalisis menjadi hasil penelitian.

F.    Analisis Data

Teknis analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis presentasi. Analisis deskriprif untuk mendapatkan gambaran data yang menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dengan metode cooperative collaboration. Sedangkan analisis presentase untuk mendapatkan seberapa presentase perkembangan peserta didik dalam menerapkan metode cooperative collaboration.

Untuk melihat daftar pustaka Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif (Penelitian Tindakan Kelas)

Lanjutan dari halaman sebelumnya:  BAB III
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Tarsito.
Arikunto, Suharsimi. 2000. Metode Stastitik. Jakarta: Tarsito.
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hudoyo. 1996. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Gremedia.
Ibrahim. 2006. Kiat Mengatasi Kesulitan Belajar. Jakarta:Elex Media Kopetindo.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Madya. 1994. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Prayitno, Elida. 1989. Motivasi dalam belajar. Padang. Proyek pengembangan lembaga pendidikan lembaga pendidikan tenaga kependidian FKIP IKIP Padang.
Rosyada, Dede. 2004. Paradigma Pendidikan Demokrasi. Jakarta: Pranada Media.
Sadiman, S. Arief. 2003. Media pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Sidi, Indra Jati. 2003. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta.
Suryosubroto, Sumadi. 1997. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: UGM.
UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.
UU No. 25 Tahun 2002 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.
Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Penelitian Kuantitatif (Expost Facto)






























BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang  Masalah
Dalam proses belajar mengajar, ada enam faktor yang harus dikuasai oleh seorang guru, salah satunya guru harus melaksanakan proses penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar  dan sangat  penting dilakukan oleh seorang guru (Djauzak Ahmad dalam  http://www.mprgubri.org). Hal ini sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 64 ayat 1 dan 2 sebagai berikut:
“Penilaian hasil belajar oleh guru harus dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas sehingga guru dapat menilai pencapaian kompetensi yang dimiliki siswa, sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar siswa, dan sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar”.

Berdasarkan pasal 64 UU No. 20 tahun 2003 tersebut dapat dipahami bahwa penilaian hasil belajar sangat penting dilakukan oleh guru, karena guru dapat mengetahui kualitas pembelajaran dan merancang program pembelajaran yang lebih baik kedepannya. Penilaian  hasil belajar ini harus dilakukan guru secara  berkesinambungan  agar  memperoleh  hasil  yang  optimal.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2007 pasal 1 ayat 1 tentang standar penilaian pendidikan menjelaskan : penilaian  hasil  belajar  peserta didik  pada  jenjang  pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. 

Dalam  melakukan  penilaian  hasil  belajar,  guru harus  memperhatikan  dan  memberikan penilaian kepada siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang sesuai dengan standar penilaian yang berlaku  secara  nasional dan harus mencapai ketuntasan yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. Tujuannya adalah untuk mencapai mutu pendidikan yang berkualitas dan  memiliki siswa yang mempunyai kompetensi bagus.

Kenyataannya dalam penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh sebagian guru masih belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari fenomena yang masih terdapat di sekolah-sekolah yaitu : pertama, guru hanya melaksanakan penilaian hasil belajar diakhir satuan program/semester. Guru yang melaksanakan penilaian hasil belajar seperti ini memiliki sisi negatif, guru tidak dapat mengetahui siswa  mana yang masih mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar  (Purdiyanto, 2010 ).

Kedua: guru telah melaksanakan penilaian hasil belajar secara  berkesinambungan, namun hasil dari penilaian tersebut langsung dikembalikan kepada siswa dan  tidak diproses kembali. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mengetahui kesalahan ataupun kebenaran dari setiap soal  yang dijawabnya (Ajisaka, 2006). Ketiga: guru melakukan penilaian hasil belajar tidak bervariasi. Guru hanya melakukan penilaian hasil belajar dalam bentuk objektif tanpa adanya penggunaan essay atau sebaliknya . Kondisi ini membuat motivasi siswa rendah dalam mengikuti penilaian  dan menyebabkan  kualitas pendidikan rendah. 

Berdasarkan pengalaman dari penulis selama menempuh pendidikan di sekolah menengah bahwa penilaian yang diterapkan oleh guru, yaitu: Pertama, guru dalam melaksanakan penilaian hanya kadang-kadang mengembalikan dan membahas hasil penilaian tersebut, sehingga siswa tidak mengetahui kesalahan dan kebenaran jawaban dalam penilaian. Kedua, saat pelaksanaan ujian, guru sibuk dengan urusannya sendiri dan membiarkan siswa begitu saja sehingga siswa dapat mencontek saat ujian/ulangan, dan kadang guru meninggalkan ruang kelas, serta asyik bercerita dengan guru yang lainnya. Ketiga : guru tidak adil dalam memberikan nilai kepada siswa karena pada saat ulangan, jawaban yang ditulis benar sesuai dengan jawaban teman lainnya, tetapi guru menyalahkan jawaban tersebut, sedangkan jawaban siswa lainnya dibenarkan oleh guru. Hal tersebut menimbulkan konsekwensi yaitu, siswa menganggap ujian tidak penting dan siswa tidak peduli terhadap ujian yang dilaksanakan guru. Buktinya siswa tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian/ulangan. Selain itu, siswa permissive/bebas dalam mencontek. 

Oleh karena itu masalah tersebut tidak dapat dibiarkan. Begitu pentingnya persepsi siswa terhadap penilaian hasil belajar yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Siswa merupakan sumber informasi utama tentang lingkungan belajar termasuk tentang  kemampuan  mengajar  guru. Persepsi merupakan tanggapan atau penerimaan dari suatu serapan proses seseorang yang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Desmita 2002:7). 

Jadi, siswa memberikan tanggapan mengenai penilaian hasil belajar yang dilakukan guru melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan lainnya. Melalui tanggapan yang diberikan siswa, diharapkan guru dapat  mengubah penilaian hasil belajar kearah yang lebih baik dalam menilai kemampuan dan perkembangan siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan.

B.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuaraikan di atas dapat diidentifikasi sejumlah masalah mengenai persepsi siswa terhadap penilaian hasil belajar yang diberikan guru meliputi :
a.    Guru tidak memberikan umpan balik kepada siswa
b.    Teknik penilaian yang dilakukan guru tidak bervariasi
c.     Guru kurang ketat melakukan pengawasan terhadap siswa saat ujian
d.    Guru  kurang  hati-hati dalam memeriksa lembar jawaban siswa
e.    Guru kurang hati-hati  dalam menentukan skor nilai akhir siswa

C.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka pembatasan masalah penelitian ini adalah hubungan persepsi siswa mengenai proses penilaian hasil belajar yang diberikan guru terhadap motivasi belajar siswa.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah : bagaimanakah hubungan persepsi siswa mengenai proses penilaian hasil belajar yang diberikan guru terhadap motivasi belajar siswa?

E.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah : untuk mengetahui hubungan persepsi siswa mengenai proses penilaian hasil belajar yang diberikan guru terhadap motivasi belajar siswa.

F.    Manfaat Penelitian
1.    Masukan bagi para pendidik dalam melakukan penilaian hasil belajar siswa.
2.    Dapat dijadikan sebagai bahan pedoman dan pertimbangan dalam melakukan penelitian selanjutnya.

Untuk melihat Bab II silahkan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Penelitian Kuantitatif (Expost Facto)

Lanjutan dari halaman sebelumnya::

BAB II
    KERANGKA TEORI
A.    Penilaian Hasil Belajar

a.    Pengertian Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang siswa di dalam proses belajar mengajar. Ada beberapa pengertian penilaian hasil belajar menurut para ahli. Menurut Anas Sudijono (2009:1) evaluasi merupakan suatu penilaian. Nana Sudjana (2009:3) mengemukakan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu.
Mehrens dan Lehmann (dalam M. Ngalim Purwanto 2006:3) menjelaskan evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.

Kemudian Wrightstone dkk (dalam M. Ngalim Purwanto, 2006:3) menyatakan bahwa evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.  Selain itu evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa  (N. E Gronlund dalam M. Ngalim Purwanto, 2006:3 )

Berdasarkan  pendapat ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penilaian hasil belajar adalah  proses yang sistematis yang harus dilakukan oleh guru untuk  memantau  kemajuan dan kemampuan siswa selama proses belajar mengajar  dengan menentukan/membuat keputusan yang baik atau jelek kepada siswa.

b.    Fungsi dan Tujuan Penilaian
Penilaian  dalam proses belajar mengajar sangat penting dilakukan oleh guru, adapun fungsi penilian  menurut M. Ngalim Purwanto (2006:5) ada 4 macam:
1) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa, untuk mengisi raport, dan untuk menentukan kenaikan kelas 2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran, dan berguna bagi guru untuk mengadakan perbaikan program beserta pelaksanaanya pada masa yang akan datang atau pertemuan berikutnya. Komponen-komponen pengajaran antara lain adalah tujuan materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar alat dan sumber pelajaran serta prosedur dan alat evaluasi 3) Untuk keperluan bimbingan dan konseling, untuk mengetahui dalam hal-hal apa seseorang atau sekelompok siswa yang memerlukan pelayanan remedial, sebagai dasar dalam menangani kasus-kasus tertentu diantara siswa, dan sebagainya 4) Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

Selanjutnya Nana Sudjana (2008:111) menyatakan fungsi penilain hasil belajar adalah:
1)    Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional /tujuan pengajaran, dengan ini dapat diketahui penguasaan bahan pelajaran yang dikuasai oleh siswa dan dapat mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa
2)     Untuk megetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan guru, dengan ini guru dapat mengetahui berhasil tidaknya ia mengajar  dan sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar
3)    Sebagai dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya.
  Dari penjelasaan ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penilaian hasil belajar sangat penting dilakukan oleh guru, karna memberikan manfaat yang besar terhadap siswa dan guru, salah satunya  untuk  mengetahui kelemahan dan kelebihan pada proses belajar mengajar dan dapat memperbaiki proses belajar mengajar kedepannya dengan baik, sehingga memiliki mutu dan kualitas yang bagus.

Kemudian Kiranawati (2008) menjelaskan dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu
2.    Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran
3.    Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya ntuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.
c.    Aspek-Aspek yang Diukur dalam Penilaian
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penilaian hasil belajar pada dasarnya merupakan tugas guru memberikan penilaian terhadap kemampuan dan kemajuan siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar. Nana Sudjana (2009:111) menjelaskan penilaian atau evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. 

 Aspek-aspek kriteria penilaian menurut Mimin Haryati (2009:22)  ada tiga macam yaitu :
1)    Penilaian aspek kognitif
Aspek kognitif menurut taksonomi Bloom (dalam Mimin Haryati, 2009:23) kemampuan berfikir secara hirarki yang mengungkapkan tentang kegiatan mental siswa yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi, sebagai berikut :
a)    Tingkat pengetahuan, pada tahap ini menuntut siswa untuk mampu mengingat berbagai informasi mengenai materi pelajaran yang telah dijelaskan guru sebelumnya, dan siswa menjawab pertanyaan berdasarkan hapalan saja, misalnya fakta, rumus dan sebagainya
b)    Tingkat pemahaman dihubungkan dengan kemampuan siswa untuk menjelaskan pengetahuan atau menyatakan masalah dengan kata-kata sendiri, missal memberi contoh suatu konsep
c)    Tingkat penerapan, merupakan kemampuan siswa untuk menggunakan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari
d)    Tingkat analisis, merupakan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan  fakta dan pendapat, serta menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi, dan menemukan hubungan sebab-akibat
e)    Tingkat sintesis, merupakan kemampuan siswa dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai unsur pengetahuan sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh atau siswa dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau torinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya
f)    Tingkat evaluasi, merupakan level tertinggi yang menghrapkan siswa mampu membuat penilaian tentang nilai suatu gagasan dengan menggunakan criteria tertentu atau mengevaluasi informasi seperti bukti, sejarah, editorial dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya seorang guru dalam membuat penilaian hasil belajar kognitif  harus  mencakup semua aspek-aspek kognitif dari tigkat pengetahuan sampai tingkat evaluasi. Dan, diharapkan  penilain yang dilakuak guru tidak hanya pada tingkat hafalan, tetapi mencakup semua aspek kognitif yang ada. Hal ini dapat menjadikan siswa memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

2)    Penilaian aspek afektif
Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan nilai. Ciri-ciri hasil belajar afektif dilihat pada tingkah laku siswa, seperti perhatian siswa terhadap mata pelajaran, disiplin siswa terhadap mata pelajaran, memiliki motivasi yang tingg dan lainnya. Sesuai dengan penjelasan Pophan (dalam Mimin Haryati, 2009:36) bahwa aspek afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang untuk mencapai ketuntasan dalam proses pembelajaran, karna siswa yang memiliki minat tehadap materi pelajaran akan mencapai ketuntasan belajar dan sebaliknya.
Selain penilaian aspek kognitif  di atas tadi, aspek  afektif  juga  sangat penting dilakukan guru dalam menilai  perbuatan dan tindakan siswa di dalam sekolah maupun di luar sekolah atau saat proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga, terbentuklah siswa yang tidak hanya menguasai materi pelajaran saja, tetapi  juga  memiliki  sikap dan akhlak yang baik. 

3)    Penilaian aspek psikomotor
Penilaian psikomotor merupakan penilaian yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Sesuai dengan pendapat Singer (dalam Mimin Haryati, 2009:25) kelompok mata ajar psikomotor adalah mata ajar yang lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik. Sedangkan menurut Dave (dalam Mimin Haryati, 2009:26) hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu :
a) Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana dan sama persis dengan yang diperhatikan sebelumnya b) Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihatnya tetapi berdasarkan pada petunjuk saja c) Presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang presisi d) Artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan kompleks dan ketepatan sehingga produk kerjanya utuh e) Naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara refleks yaitu kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja tinggi.
Dari penjelasan di atas guru harus melakukan semua aspek penilain, agar siswa mendapatkan kemajauan dalam proses belajar mengajar. Keterpaduan yang seimbang dari  ketiga aspek penilaian diharapkan dapat membentuk kompetensi siswa yang optimal.

d.    Jenis-Jenis Penilaian
Menurut Nana Sudjana (2008:5) jenis penilaian ada lima macam yaitu :

1) Penilaian formatif, adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir proses belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan siswa 2) Penilaian sumatif, adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir proses belajar mengajar/akhir semester, tujuannya untuk melihat hasil yang dicapai siswa 3) Penilaian diagnostik, adalah penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyebabnya, ini dilaksanakan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial 4) Penilaian selektif, adalah penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi 5) Penilaian penempatan, adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui keterampilan prasyarat yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar mengajar.
Dari penjelasan diatas guru melakukan salah satu jenis penilain harus sesuai dengan yang diperlukan dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Jenis penilain yang dilakukan guru memiliki manfaat bagi guru untuk mengetahui kemampuan, perkembangan dan kelemahan siswa.

Selanjutnya Nana Sudjana (2008:112) menjelaskan penilaian hasil belajar dapat dilkasanakan dalam dua tahap :               
1)    Tahap jangka pendek yakni  penilaian yang dilaksanakan guru pada saat proses belajar mengajar disebut penilaian formatif.
Menurut Indrayanto (2010) tes formatif merupakan salah satu cara atau sarana untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa tentang materi yang telah dijelaskan guru  di dalam proses belajar mengajar dan melihat apakah ada umpan balik yang baik atau tidak. Yang dimaksud dengan “umpan balik” ialah pemberian informasi yang diperoleh dari tes atau alat ukur lainnya kepada siswa untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar, dan setelah adanya tes akan diketahui adanya umpan balik bagi siswa maupun guru yang mengajar.

Dari umpan balik tersebut diharapkan adanya perbaikan masing-masing baik siswa maupun guru. Yang termasuk alat ukur disini ialah  pekerjaan rumah (PR) atau tugas-tugas berupa pertanyaan yang diajukan di dalam kelas  atau di sebut sebagai ulangan harian.

2)    Tahap jangka panjang yakni penilaian yang dilaksanakan setelah proses belajar mengajar berlangsung beberapa kali/setelah menempuh periode tertentu, misalnya penilaian setengah semester/penilaian akhir semester disebut penilaian sumatif.

Berdasarkan penjelasan diatas, guru melaksanakan penilaian hasil belajar pada saat proses belajar mengajar, terserah pada guru melaksanakan penilaian di awal, saat berlangsungnya dan  akhir peoses belajar mengajar serta penilaian yang dilakasanakan setelah menempuh periode tertentu/penilaian semester.
Berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan Nasional RI No 20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan bentuk-bentuk penilaian hasil belajar yaitu : 
1) Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar atau lebih 2) Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik     untuk mengukur ketercapaian kompetensi siswa setelah malaksanakan 8-9 minggu  kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan seluruh kompetensi dasar pada periode tersebut 3) Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik     untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa di akhir semester. Cakupan     ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua kompetensi dasar pada semester tersebut 4) Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester dua untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa.Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan kompetensi dasar pada semester tersebut.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bentuk penilaian yang terdiri dari ulangan harian, ulangan tengah dan akhir semester, serta ulangan kenaikan kelas, merupakan tugas yang harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan penilaian hasil belajar agar dapat mengetahui kemampuan dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.

e.    Teknik Penilaian
Teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa dalam proses belaajr mengajar. Menurut Suharsimi Arikunto (1999:26) teknik penilaian  hasil belajar, terbagi atas dua macam, yaitu:
1)    Teknik Tes
Tes digunakan untuk menilai hasil belajar siswa terutama aspek kognitif untuk melihat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok. (Webster’s Collegiate dalam Kiranawati, 2008). Tes merupakan suatu alat yang sitematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang tepat dan cepat (dalam Suharsimi Arikunto 1999:32).
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang. 

Kiranawati (2008) menyatakan bahwa tes mempunyai dua fungsi, yaitu: a) Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau  tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu  b) Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

Selain itu, menurut Syamsul Hadi Rukkiyah (2009) bentuk tes ada tiga macam :
a) Tes tertulis,  ada  2 macam :  pertama, Tes obyektif, adalah tes tulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat terbatas. Bentuk-bentuknya berupa :  tes benar salah, tes menjodohkan, tes pilihan ganda, tes melengkapi, tes jawaban singkat. Kedua, tes subyektif,  adalah tes tulis yang meminta siswa memberikan jawaban berupa uraian. Bentuk-bentuknya berupa : tes uraian bebas, tes uraian terikat b) Tes lisan c) Tes tindakan atau perbuatan.

Dari penjelasan ahli di atas dapat diambil kesimpulan penggunaan setiap jenis tes tersebut seharusnya disesuaikan dengan kompetensi siswa dan perkembangannya. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik  sangat tepat apabila mengukur tes tindakan, dan kawasan afektif  diukur dengan skala perilaku atau sikap.

Menurut Suharsimi Arikunto (1999:33)   kegunaan tes untuk mengukur siswa ada tiga, yaitu :
a.     Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat   diberikan bantuan yang tepat
b.    Tes formatif di maksudkan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah memahami materi setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Tes formatif diberikan pada akhir setiap program, seperti post-tes atau tes akhir proses/ ulangan harian
c.    Tes sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok  program atau sebuah program yang lebih besar diadakan pada akhir semester.
Dari penjelasan tersebut, tes sangat penting dilakukan oleh seorang guru dalam melakukan penilaian bagi siswa untuk memantau kemajuan dan perkembangan siswa.
2)    Teknik non tes
Bentuk  teknik penilaian selain tes yang ke dua adalah non tes. Menurut Anas Sudijono (2009:74) ada empat macam teknik non tes yaitu :
a) Pengamatan, sebagai alat evaluasi digunakan untuk menilai tingkah laku individu b) Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak,  berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan c) Angket, juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh siswa d) Pemeriksaan dokumen juga dapat digunakan dalam penilaian hasil belajar dengan melihat dokumen pribadi siswa.

Dari pendapat ahli diatas non tes juga sangat diperlukan dalam teknik penilaian yang dilakukan guru. Selain, menilai penguasaan siswa mengenai mata pelajaran, guru juga dapat memantau tingkah laku siswa dan memperoleh informasi mengenai siswa selama proses belajar mengajar, melalui pengamatan, wawancara, pemeriksaan dokumen dan lainnya.

Sedangkan menurut Mimin Haryati (2009:45) ada beberapa macam teknik penilaian yaitu :
a)    Penilaian unjuk kerja
Penilaian unjuk kerja dilakukan oleh guru dalam mengamati kegiatan siswa yang menuntut siswa untuk melakukan tugas praktek/gerak (psikomotor). Guru perlu memperhatikan beberapa hal dalam melakukan penilaian unjuk kerja yaitu: pertama: langkah-langkah kinerja yang diharapakan dapat dilakukan siswa dalam menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi, kedua: kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, ketiga: kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua yang ingin dinilai dapat diamati.
b)    Penilaian project work
Penilaian project work merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang mencakup beberapa kompetensi yang harus diseleseaikan siswa dalam jangka waktu tertentu. Yang harus diperhatikan guur dalam melakukan penilaian project work adalah : pertama : kemampuan pengolahan, siswa mampu memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data, kedua : relevansi kesesuaian mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahapan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran, ketiga : keaslian, project yang dilakukan siswa merupakam karyanya sendiri.

Ada beberapa fungsi dilakukannya project work yaitu : 1. Merupakan bagian internal dari proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa, memberikan peluang kepada siswa untuk mengekpresikan kompetensi yang dikuasai siswa secara utuh, lebih efisien dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomis, dan menghasilkan nilai penguasaan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
c)    Penilaian tertulis
Penilaian tertulis merupakan tugas guru dalam mengajukan soal atau pertanyaan yang dilakuakn secara tertulis dan di jawab oleh siswa secara tertulis pula. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam melakukan penilaian tertulis yaitu : tempat pelaksanaan tugas harus kondusiftempat duduk siswa diatur agar tidak terjadinya kerjasama antara siswa menjawab soal dan menghindarkan kecurangan yang terjadi, siswa memepunyai kesempatan yang sama dalam dalam mengerjakan soal, guru bertindak sewajarnya dalam melakukan pengawasan terhadap siswa, dan lainnya.
d)    Penilaian produk
Penilaian produk adalah penilain terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk yang meliputi penilaian kemampuan siswa terhadap proses pembuatan suatu produk. Tiga hal yang harus diperhatikan guru dalam melakukan penilaian produk adalah : pertama : tahapan persiapan, meliputi penilaian kemampuan siswa dalam merencanakan dan mendesain produk, kedua : tahap proses pembuatan produk, meliputi penilaian kemampuan siswa dalam menggunakan bahan, teknik dan metode, ketiga : tahap penilaian produk yang dihasilkan siswa sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
e)    Penilaian portofolio
Penilaian portofolio yang dilakukan oleh guru bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan bakat siswa serta perkembangan aspek psikomotor siswa dengan cara menilai kumpulan karya dalam suatu periode tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam melakukan penilaian portofolio yaitu : asli yang dibuat oleh siswa sendiri, saling percaya antara guru dan siswa dalam proses penilaain, guru dan siswa memiliki berkas-berkas portofolio, dan penilaian portofolio terintegrasi dengan kegiatan proses pembelajaran.
f)    Penilaian sikap
Penilaian sikap sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai ketuntasan dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Pophan (dalam Mimin Haryati 2009:61) menjelaskan bahwa ranah afektif  dapat  menentukan keberhasilan belajar seseorang. Oleh karna itu, siswa yang tidak memiliki minat dalam belajar, maka siswa akan kesulitan untuk mencapai standar nilai yang ditetapkan.
Aspek yang perlu dinilai oleh guru dalam melakukan penilaian sikap yaitu: penilaian sikap siswa terhadap materi pelajaran,terhadap  guru, proses pembelajaran dan lainnya.
g)    Penilaian diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian yang meminta siswa untuk menilai dirinya sendiri yang berkaitan dengan proses dan tingkat ketercapaian kompetensi yang sedang dipelajarinya dari suatu mata pelajaran tertentu. Langkah-langkah yang harus dilakukan guru dalam melakukan penilaain diri adalah : menentukan standar kompetensi dan kriteria yang akan digunakan, meminta siswa melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri seperti : menilai penguasaanya terhadap mata pelajaran, menilai keterampilan yang telah di milikinya, menilai sikap/ perasaanya terhadap objek tertentu.

B.    Motivasi Belajar
a.    Pengertian Motivasi
Kata motivasi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moelieno, 1990: 593) memiliki dua pengertian yaitu:
1.    Dorongan yang lembut pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu.
2.    Usaha- usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang pengertian motivasi Julaika Yusuf (1987: 73) mengartikan bahwa: motif adalah kekuatan yang membangkitkan dan mengarahkan kelakuan seseorang, sedangkan motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas guna mencapai tujuan“. 

Ungkapan di atas senada pula dengan pendapat Sardiman (1986: 74) menuliskan bahwa Mc. Donal menyatakan: “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap tujuan”. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan atau energi penggerak yang mengarahkan dan memperkuat tingkah laku seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya. Dengan demikian individu termotivasi untuk melakukan suatu aktifitas atau tindakan, manakala aktifitas itu dapat memenuhinya.

b.    Pengertian Belajar
Belajar adalah sustu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia bayi hingga keliang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif) (Sadiman,2003;1-2). Proses belajar dapat terjadi kapan dan dimana saja terlepas dari adanya yang mengajar atau tidak karena secakan belajar secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Lebih lanjut Sardiman (2001;20) menyatakan belajar merupakan perubahan tingkah laku dan penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.

c.    Motivasi Belajar Siswa
Dalam belajar ada beberapa hal yang dapat menghambat dan mendorong seseorang melakukan perbuatan belajar atau disebut juga dengan hal-hal yang mempengaruhi seseorang dalam belajar. Hal-hal yang mempengaruhi tersebut baik berupa pendorong ataupun yang menghambat seseorang dalam belajar itu bisa berasal dari diri orang itu sendiri atau dari luar dirinya. Secara internal ataupun eksternal banyak faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang. Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang tersebut. Faktor internal itu bisa berupa keadaan psikis atau mental seperti minat, bakat, kepuasan, dan faktor psikologis lainnya . 

Adapun faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi motivasi yang bersumber dari luar diri seseorang. Faktor eksternal ini dapat berasal dari kondisi fisik maupun lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang mempengaruhi motivasi seseorang bisa lingkungan fisik sekolah, lingkungan sosial sekolah, dan lingkungan keluarga seperti dinyatakan oleh Elida Prayitno (1989: 133) bahwa;
Lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap minat dan kemauan siswa/ mahasiswa dalam belajar adalah lingkungan sekolah dan keluarga atau orang tua. Lingkungan sekolah yang dimaksud adalah khusus mengenai lingkungan fisik dan sosial yang terdapat di dalam kelas atau sekolah pada umumnya. Lingkungan fisik sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan rasa aman, nyaman dan memberikan fasilitas belajar sangat banyak menunjang minat siswa dalam belajar. 

C.    Teori Humanistik Skinner
Menurut Skinner, untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas kita harus memahami hubungan antar satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekwen yang diakibatkan oleh respon tersebut (Herman, dkk, 2006: 14). Sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu sama lainnya, dan interaksi itu akhirnya mempengaruhi respon yang dihasilkan dan pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa.

Demikian halnya dengan motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa akan muncul apabila seorang guru mampu memberikan stimulus-stimulus kepada para siswa tersebut. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru merupakan salah satu stimulus yang dapat diberikan kepada siswa agar motivasi belajar siswa dapat muncul ke permukaan.

D.    Kerangka Berfikir
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan belajar, langkah-langkah dalam proses penilaian hasil belajar merupakan bagian dari stimulus yang diberikan oleh guru, bagian dari langkah-langkah penilaian hasil belajar yang menjadi stimulus dalam penelitian ini terdiri dari:
1.    Penilaian aspek kognitif
Seorang guru dalam membuat penilaian hasil belajar kognitif  harus  mencakup semua aspek-aspek kognitif dari tigkat pengetahuan sampai tingkat evaluasi. Diharapkan  penilain yang dilakukan guru tidak hanya pada tingkat hafalan saja, tetapi mencakup semua aspek kognitif yang ada.

2.    Penilaian aspek afektif
Selain penilaian aspek kognitif di atas tadi, aspek afektif juga sangat penting dilakukan guru dalam menilai  perbuatan dan tindakan siswa di dalam sekolah maupun di luar sekolah atau saat proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga, terbentuklah siswa yang tidak hanya menguasai materi pelajaran saja, tetapi  juga  memiliki  sikap dan akhlak yang baik.

3.    Penilaian aspek psikomotor
Penilaian psikomotor merupakan penilaian yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Guru  harus melakukan penilaian secara menyeluruh yang artinya seorang guru jangan hanya menilai segi penguasaan materi semata, tetapi harus menilai segi tingkah laku dan keterampilan siswa sehingga proses belajar rmengajar akan lebih baik.

E.    Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori di atas maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H0    :    Tidak terdapat hubungan antara penilaian hasil belajar yang diberikan guru dengan motivasi belajar siswa.
H1    :    Terdapat hubungan antara penilaian hasil belajar yang diberikan guru dengan motivasi belajar siswa.

Untuk melihat Bab III silahkan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Penelitian Kuantitatif (Expost Facto)

Lanjutan dari halaman sebelumnya: BAB II

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Ex Post Facto yakni penelitian yang dilakukan untuk meneliti suatu peristiwa yang telah terjadi dan kemudian diamati ke belakang tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya peristiwa tersebut (Iskandar, 2008: 66, dalam skripsi Adhayati, 2011: 38). Variabel dalam penelitian ini dua, pertama, variabel sebab yaitu penilaian hasil belajar yang dilakukan guru, dan kedua, variabel akibat atau terikat yaitu motivasi belajar siswa.
B.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Pembangunan  Laboratorium UNP Padang yang terdaftar pada tahun ajaran 2010/2011. Terdapat 3 kelas dengan jumlah siswa keseluruhan adalah 268 orang, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Tata Usaha SMA Pembangunan Laboratorium UNP Padang.

    Tabel 1
Populasi siswa SMA Pembangunan 
    Laboratorium UNP Padang
No.    Kelas    Jumlah
1.    X              100
2.    XI             88
3.    XII            80
Jumlah              268
2.    Sampel
Sampel penelitian diambil 25% dari seluruh siswa SMA Pembangunan  Laboratorium UNP Padang yang terdaftar pada tahun ajaran 2010/2011. Dengan demikian sampel dari penelitian ini adalah 67 orang. Namun karena sesuatu dan lain hal maka sampel dikompres menjadi 10 orang.

    Tabel 2
Jumlah sampel siswa SMA Pembangunan
    Laboratorium UNP Padang
No.    Kelas    Jumlah    Sampel
1.         X         100         25
2.         XI        88           22
3.         XII      80           20
Jumlah            268          67
C.    Validitas Penelitian
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kesahihan  instrumen. Suatu instrumen  yang valid mempunyai validitas yang tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti  memiliki validitas  rendah.

Menurut Tuckman yang dikutip oleh  Zafri (2000:51-55), membagi validitas penelitian tersebut di atas dua kategori yaitu  validitas eksternal dan validitas internal.

a.    Validitas  Eksternal
Validitas eksternal adalah ketetapan penelitian ditinjau dari kesimpulan hasil penelitian. Kemungkinan kesimpulan dari suatu penelitian dari tiga tingkatan: pertama, kesimpulan bersefat umum, yaitu berlaku  bagi  siapa saja asalkan satu jenis. Kedua, kesimpulan hanya terbatas pada objek kajian yang  diteliti. Ketiga, kesimpulan hanya berlaku kepada objek.


b.    Validitas Internal
Validitas internal merupakan ketepatan penelitian ditinjau dari segi pelaksanaan. Hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1.    History
History adalah kejadian-kejadian yang berpengaruh disekitar dua kelompok yang sedang dilakukan kegiatan penelitian (kelas kontrol dan  kelas instrumen).
2.    Maturation
Maturation merupakan kematangan seorang peneliti dalam penelitian. Maka dari itu pelaksanaan penelitian ini pada kelas kontrol dan kelas ekperimen diusahakan semaksimal mungkin dalam waktu yang hampir bersamaan.
3.    Testing
Testing diartikan sebagai petunjuk yang membuat orang tahu tentang adanya soal-soal pada tes. Peneliti memberi jarak waktu selama 1 minggu untuk melaksanakan pretest dengan posttest agar siswa sudah lupa dengan soal-soal pretest.
4.    Instrumentation
Pengolahan data penelitian harus dilakukan oleh peneliti sendiri demi untuk menghindari kesalahan dalam pengolahan data penelitian jika dilakukan oleh banyak orang.
5.    Selection
Selection berarti pengambilan kelas yang dilakukan secara random untuk menentukan kelas eksperimen.

6.    Mortality
Mortality diartikan sebagai data yang tidak akan diolah karena ketidakikut sertaan siswa secara penuh dalam pengumpulan data.
D.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket. Angket disusun berdasarkan kajian teori dan menggunakan skala Likert dengan empat alternatif jawaban yaitu; selalu (SL), sering (S), jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Dalam angket terdapat pernyataan positif yang mendukung motivasi dan pernyataan negatif yang tidak mendukung motivasi. Sama halnya dengan angket mengenai penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru.
E.    Teknik Analisa
Uji Hipotesis
Berdasarkan hipotesis yang telah diajukan, maka analisis data menggunakan statistik korelasi product moment. Analisis digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan. Adapun rumus korelasi tersebut menggunakan rumus product moment sebagai berikut:
r xy= 
Keterangan:
rxy     = Koefisien korelasi satu item dengan item lainnya
∑x     = Jumlah skor setiap item
∑x2     = Jumlah kuadrat skor item
∑y     = Jumlah skor seluruh item
∑y2     = Jumlah kuadrat seluruh item
∑xy     = Jumlah hasil kali skor x dan y
n     = Jumlah responden

Untuk melihat Bab IV silahkan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Penelitian Kuantitatif (Expost Facto)

Lanjutan dari halaman sebelumnya: BAB III
BAB IV
HASIL PENELITIAN

A.    Deskripsi Data
Variabel dalam penelitian ini dua, pertama, variabel bebas yaitu penilaian hasil belajar yang dilakukan guru (X), dan kedua, variabel terikat yaitu motivasi belajar siswa (Y). Berdasarkan penelitian diperoleh data mengenai penilaian hasil belajar dan motivasi belajar siswa SMA Pembangunan UNP Padang melalui penyebaran angket kepada siswa dari kelas X – XII sebanyak 10 orang dan kemudian data dari 10 orang tersebut dianalisis.

Angket penelitian dari 10 orang siswa yang dianalisis, terdapat butir pernyataan sebanyak 37 pernyataan dengan alternatif jawaban selalu (SL), sering (SR), jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Rentang skala 1-4 yang terdiri atas 13 indikator. Pada variabel penilaian hasil belajar ada 7 indikator dan variabel motivasi belajar terdiri atas 6 indikator.

B.    Uji Hipotesis
Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment, pengujian dilakukan antara penilaian hasil belajar dengan motivasi belajar siswa menggunakan perbandingan harga r yaitu rhitung < rtabel untuk hubungan yang tidak signifikan (H0 diterima) sedangkan jika rhitung > rtabel berarti terdapat hubungan yang signifikan (H1 diterima). Hasil yang diperoleh dalam analisis ini rhitung 0,68 sedangkan nilai rtabel 0.205, jadi rhitung 0,68 > rtabel 0,205 hal ini berarti bahwa hipotesis H0 ditolak sedangkan H1 yang menyatakan terdapat hubungan yanng signifikan antara penilaian hasil belajar dengan motivasi belajar siswa diterima.


C.    Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang dilakukan terhadap penilaian hasil belajar dan motivasi belajar siswa, dapat terlihat bahwa antara penilaian hasil belajar dan motivasi belajar siswa terdapat hubungan yang signifikan. Hal ini berarti bahwa penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru mempengaruhi motivasi belajar siswa secara umum. Hal ini sealur dengan teori humanistik Skinner yakni untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas kita harus memahami hubungan antar satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekwen yang diakibatkan oleh respon tersebut. Berbagai cara yang dilakukan guru untuk menilai hasil belajar siswa merupakan stimulus yang diberikan oleh guru tersebut sedangkan respon dari siswa berupa motivasinya saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

D.    Implikasi
Merujuk pada hasil penelitian, diperoleh data bahwasanya langkah-langkah melakukan penilaian hasil belajar yang dilaksanakan oleh guru mempengaruhi motivasi belajar siswa. Komponen penilaian hasil belajar merupakan salah satu bagian dari motivasi ekstrinsik yang diperlukan untuk mendorong motivasi instrinsik siswa untuk belajar. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan kesadaran dari pihak guru untuk meningkatkan penggunaan langkah-langkah dalam proses penilaian hasil belajar siswa. Hal ini dilakukan agar siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.

Untuk melihat Bab V silahkan Klik disini


NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.

Contoh Penelitian Kuantitatif (Expost Facto)

Lanjutan dari halaman sebelumnya: BAB IV

BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel penilaian hasil belajar dengan motivasi belajar siswa yang dapat dilihat dari hasil uji hipotesis dengan rumus korelasi product moment diperoleh perbandingan rhitung lebih besar dari rtabel sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.
B.    Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka disarankan:
  1. Kepada guru agar menggunakan langkah-langkah penilaian hasil belajar siswa dengan baik karena penilaian yang dilakukan oleh guru mempengaruhi motivasi belajar siswa.
  2. Kepada siswa agar lebih meningkatkan motivasi belajar khususnya motivasi intrinsik. Motivasi mempunyai peranan yang penting dalam proses pembelajaran karena motivasi dapat memberikan semangat kepada siswa untuk belajar sehingga mampu mencapai tujuan dari pembelajaran.
Untuk melihat daftar bacaan yang digunakan Klik disini

NB: Ini hanyalah sebuah contoh belaka, penelitian yang sebenarnya belum dilakukan begitu juga dengan data yang ada hanyalah karangan penulis. Harap maklum. Terima kasih.