Minggu, 22 Januari 2012

PERTENGKARAN ITU MENYISAKAN BUNGKAM BERKEPANJANGAN

Dalam puisi kutulis inginku
Aku ingin mempercayaimu seperti
Mempercayai angin yang setia
Membimbing ombak menemui tepian

Kau marah merasa aku tak mempercayaimu,
Kutulis lagi
Tapi selalu saja aku menjauh ke pedalaman
Di mana angin menumbangkan pohon
Dan banjir membawa bongkahnya ke hilir
Terdampar di pesisir

Marahmu memerah api
Aku terlanjur abu
Warna baju yang kupilih ketika menemuimu

Aku ingin mempercayaimu seperti langit
Yang mengembang
Walau jauh tak tersentuh
Tak mengelak kupandang

Kau bersiap melepaskanku seperti layang-layang
Di balik kobaran api yang menyala-nyala

Tapi kataku, masih dalam puisi
Selalu saja awan hitam menghalang
Aku dalam lebat hujan terbenam lumpur dalam
Kau tak menatapku
Matamu menatap cermin yang memantulkan lelah tubuhmu
Aku masih menulis, bait – bait puisi
Di balik kobaran itu bayangmu menjadi,
Lepas dari tangkai
Mengapung di antara bangkai daun lainnya
Kamu tetap tak mau mengerti
Aku berteka – teki, tuduhmu

Aku ingin memungut daun hatimu
Memenuhi ranting hatiku
Agar merimbun dalam tubuhku
Tanpa angin meluruh jatuh

Bukan puisi, erangamu
Lalu bungkam
Alu sepi

Banda Aceh, 19 November 2010
( Karya : D Kemalawati, 3 di HATI, hlm. 124)

0 komentar:

Posting Komentar