Selasa, 24 Juli 2012

Makan Sahur Itu Baiknya Tidak Sembarangan!

 
Konon sahur itu penting untuk menjaga stamina tubuh selama berpuasa. Buat yang gak suka sahur karena gak bisa melek, perlu dicatet tuh, bahwa sahur itu penting!!!!

Kelompok makanan yang perlu dikonsumsi adalah karbohidrat (nasi merah, roti gandum, ubi, kentang), susu dan produk susu, ikan, daging dan unggas, kacang-kacangan, buah dan sayuran. Selain itu yang tidak boleh dilupakan adalah banyak-banyak minum air putih dan juga perbanyak komsumsi serat biar pencernaan tetap lancar jaya. Dan makanan yang baiknya dihidari ketika sahur adalah:
  1. Makanan berlemak dan gorengan
  2. Makanan pedas dan kalengan
  3. Makanan yang mengandung banyak gula dan karbohidrat olahan
  4. Minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh, soda dan lainnya
Konon makan-makanan yang perlu dihindari tersebut adalah makanan yang bisa menyebabkan:
  1. Gangguan pencernaan—> perlu dicatet nih: jadi bukan sinyal atau jaringan internet saja yang bisa terganggu, pencernaan pun ada juga gangguannya.
  2. Nyeri ulu hati—> bahaya buat ABG gaul yang baru putus nih, karena udah hatinya patah ditambah nyeri lagi, gimana total rasanya coba?
  3. Masalah berat badan—> jadi bertanya-tanya, kira-kira bikin nambah atau kurang nih?
Demikian sharing kita kali ini, semoga bermanfaat. Terima kasih kunjungannya.


Sumber: ***

Pengalaman Sukses Berhenti Merokok di Bulan Puasa

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Momen puasa sangat membantu bagi yang punya niat berhenti merokok. Seorang mantan perokok berat telah membuktikan bahwa kebiasaan merokok tidak hanya berhenti saat puasa saja, tetapi bisa berlanjut hingga ke bulan-bulan berikutnya.

Saryono (28 tahun), seorang sopir di sebuah perusahaan jasa transportasi dan pengiriman barang sudah mengenal rokok sejak SMP. Bukan cuma rokok filter yang dihisapnya, laki-laki asal Cilacap ini dulunya juga merokok kretek dan tembakau linting yang kadang dicampur kemenyan.

Kesadaran untuk berhenti merokok bisa dibilang agak terlambat, karena baru dialaminya sekitar tahun 2009 ketika ia mulai sering batuk-batuk dan napasnya mulai sering sesak. Beberapa kali ia mencoba untuk berhenti merokok, namun gagal karena ia merasa sudah dalam tahap kecanduan.

Akhirnya, laki-laki beranak satu ini menemukan momen yang tepat untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Tepat pada bulan Ramadan di tahun tersebut, ia membulatkan tekad untuk benar-benar stop merokok sama sekali tanpa harus dikurangi sedikit-sedikit.

"Sangat terbantu, karena selama Ramadan itu banyak kegiatan. Dari saya sendiri juga sudah ada keinginan kuat untuk berhenti merokok, akhirnya waktu itu bisa berhenti sama sekali" tutur Saryono saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (25/7/2012).

Begitu juga setelah bulan puasa berakhir, Saryono masih berhasil menjaga jarak dengan rokok di bulan-bulan berikutnya. Keluhan batuknya mulai berkurang, serak-serak dan juga sesak napas juga sudah tidak dialaminya lagi semenjak jauh dari rokok.

Hanya saja, pengaruh lingkungan kerja yang memang didominasi oleh para perokok menjadi tantangan berat bagi Saryono yang sudah pernah begitu merasakan nikmatnya menghisap tembakau. Akhirnya setelah setahun menyatakan diri bersih dari rokok, laki-laki ini terjerumus lagi.

"Iya, akhirnya memang merokok lagi. Tapi setidaknya saya sudah berhasil selama setahun. Rokoknya juga sudah tidak sekencang dulu, sampai sekarang paling banyak sehari 2 bungkus dan bukan tembakau linting lagi. Cuma rokok putih, yang mild saja beraninya," kata Saryono.

Tahun ini, Saryono ingin memanfaatkan momen yang sama yakni bulan puasa untuk mengulang kisah suksesnya 3 tahun silam. Hingga hampir sepekan berpuasa, ia berhasil melawan godaan rekan-rekan kerjanya yang selalu merokok bersama saat berbuka maupun setelah sahur.

Belajar dari kesalahan sebelumnya, Saryono yakin kali ini dirinya bakal benar-benar berhenti merokok untuk selamanya. Tekadnya sudah bulat, istri mendukung dan dari dirinya sendiri mulai ingin serius memikirkan kebutuhan anaknya yang kini sudah berusia 4 tahun dan akan segera masuk TK.



Sumber: ***

Berhenti Merokok di Bulan Puasa Ternyata Memang Lebih Mudah

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Banyak yang menyepelekan niat untuk berhenti merokok di bulan puasa, karena dianggap pada bulan-bulan berikutnya pasti merokok lagi. Selama motivasinya kuat, para dokter menjamin puasa akan sangat memudahkan upaya berhenti merokok.

"Oh, itu bagus. Yang penting ada tekad yang bulat, motivasi harus kuat. Puasa akan sangat membantu untuk berhenti merokok," kata Dr H Aulia Sani, SpJP(K) FJCC, FIHA, FASCC, ahli jantung dari Klinik Stop Merokok RS Sahid Sahirman saat dihubungi detikHealth, Rabu (25/7/2012).

Berlanjut atau tidaknya ke bulan-bulan berikutnya, menurut Dr Aulia sangat tergantung seberapa besar motivasinya. Kalau motivasinya sangat kuat, maka besar kemungkinannya bulan puasa benar-benar jadi momentum untuk berhenti merokok secara total.

Dr Aulia sendiri mengakui, setiap bulan puasa memang terjadi peningkatan jumlah pasien yang ingin berhenti merokok. Pasien yang datang pada bulan puasa sebagian besar berhasil mengatasi kecanduan rokoknya dan tidak pernah kembali merokok sampai sekarang.

"Lagipula puasa itu kan sekalian detoks. Kalau sebulan tidak merokok, racun-racunnya sudah banyak berkurang. Kalau dilanjutkan sampai setahun, atau sampai 10 tahun maka tubuhnya sudah bersih lagi seperti semula," kata Dr Aulia yang selalu mengingatkan bahaya rokok pada setiap pasiennya.

Sedangkan untuk membangkitkan semangat atau motivasi, Dr Aulia berharap para ustadz bisa ikut mengkampanyekan bahaya rokok di kalangan umatnya. Namun ia mengakui, tidak semua ustadz bisa diandalkan karena tidak sedikit juga dari para ustadz yang juga merokok.

Bukan cuma Dr Aulia saja yang mengharapkan peran para pemuka agama, seorang ahli paru-paru dari RS Persahabatan juga berpendapat serupa. Di bulan puasa ini, dr Achmad Hudoyo, SpP(K) berharap para ustadz bisa membantu membangkitkan motivasi umatnya untuk berhenti merokok.

"Untuk berhenti merokok, motivasi itu yang utama. Ditambah momen bulan puasa, akan ada poin plus yang membuat orang makin mudah berhenti. Di situ saya berharap para ustadz mau menganjurkan umatnya untuk berhenti merokok," kata dr Hudoyo dalam wawancara dengan detikHealth beberapa waktu silam.



Sumber: ***

Puasa Jadi Momen Tepat untuk Tobat Merokok?

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Tidak sedikit perokok yang memanfaatkan bulan puasa sebagai momen untuk berhenti merokok. Jika makan dan minum yang merupakan kebutuhan pokok saja bisa dibatasi, bisakah merokok yang jelas tidak ada manfaatnya dihentikan saat puasa?

Aby, seorang karyawan swasta di Jakarta memiliki tekad bulat untuk menghentikan kebiasaan merokok yang dimulainya sejak duduk di bangku SMP. Jika berhasil, maka bulan Ramadan 1433 H, atau bulan puasa tahun ini bakal menjadi momen bersejarah bagi lelaki paruh baya ini.

Niat berhenti merokok memang tidak diputuskan oleh Aby bertepatan dengan awal bulan puasa, melainkan sudah sejak 3 pekan yang lalu. Namun diakuinya, datangnya bulan Ramadan tidak lama sesudahnya telah menjadi motivasi tersendiri untuk menyukseskan tekadnya tersebut.

"Awalnya saya berhenti karena batuk-batuk. Begitu batuk sembuh, pas masuk bulan puasa. Jadi Alhamdulillah, puasa memang benar-benar membantu," kata Aby yang mengaku mengalami radang paru-paru, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (25/7/2012).

Tentu tidak mudah bagi Aby yang selama ini tergolong perokok berat, yang biasanya dalam sehari bisa menghabiskan 3 bungkus rokok. Butuh motivasi yang sangat kuat, untuk bisa benar-benar langsung lepas dari kecanduan tanpa melalui tahapan mengurangi sedikit-sedikit.

Keinginan kuat untuk memanfaatkan bulan puasa sebagai momen berhenti merokok juga dialami oleh Saryono, seorang sopir jasa transportasi di Jakarta. Laki-laki 28 tahun asal Cilacap ini sudah meneguhkan hati, untuk mengucapkan selamat tinggal pada asap tembakau pada bulan puasa tahun ini.

"Saya yakin bisa berhenti. Istri mendukung, sementara anak saya juga sudah mulai besar. Sudah 4 tahun, sebentar lagi masuk TK," kata Saryono yang biasa menghabiskan 2 bungkus rokok Sampoerna Mild perhari, bahkan sebelumnya lebih parah lagi karena rokoknya adalah tembakau linting tanpa filter.

Diakui oleh Saryono, memang tidak mudah untuk berhenti merokok pada bulan puasa. Pasalnya di lingkungan tempat kerjanya, rekan-rekan yang habis buka puasa atau sahur pasti merokok bersama-sama sehingga selalu ada keinginan untuk bergabung dan bersama-sama menghisap asap tembakau.

Sementara Wawan, seorang karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Selatan mengaku belum berani menargetkan berhenti merokok pada bulan puasa tahun ini. Namun ia memastikan, momen ini akan ia manfaatkan untuk mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya setiap hari.

"Biasanya sehari satu bungkus. Ini sekarang sudah puasa hari kelima baru habis satu bungkus. Niatnya sih seterusnya, tapi lihat saja nanti," kata Wawan yang sebenarnya merasa tidak bebas untuk merokok di tempat kerjanya, karena harus pergi ke tangga darurat yang jarang dilalui orang.

Bagi Wawan, bulan puasa merupakan momen yang paling tepat untuk mengurangi atau bahkan berhenti merokok sama sekali. Selain tidak bisa merokok di siang hari karena akan membatalkan puasa, juga karena malamnya harus ikut tarawih sehingga waktu merokoknya otomatis ikut terpangkas.

Berhenti merokok di bulan puasa telah menjadi tren di kalangan perokok, yang mulai menyadari pentingnya hidup sehat jauh dari asap rokok. Begitu ada motivasi, maka kecanduan akan jauh lebih mudah diatasi karena secara medis maupun keagamaan, merokok di bulan puasa sangat tidak dianjurkan.

Namun kadang, berhenti merokok hanya bisa dilakukan selama bulan puasa lalu kambuh lagi di bulan-bulan berikutnya. Sebenarnya, berhenti merokok di bulan puasa itu susah atau mudah? Hanya Anda sendiri yang bisa menjawabnya.


Sumber: ***

Trik Jitu Mengatasi Stres di Tempat Kerja

img
Dok. Thinkstock
Stres seringkali muncul karena beratnya beban yang dipikul. Baik itu karena pekerjaan yang terlalu menumpuk atau karena kesulitan saat melakukan sesuatu.

Terlebih lagi jika Anda mendapatkan tekanan dari bos maupun rekan kerja senior di tempat kerja. Tentu saja hal ini hanya menimbulkan efek stres pada diri Anda. Lalu, bagaimanakah caranya agar bisa terhindar dari stres tersebut? Berikut ini beberapa trik jitu untuk mengatasinya seperti dikutip dari Self.

1. Tenangkan Diri Anda
Anda bisa membuat ritual berulang untuk meredakan stres. Ruth Klein pelatih produktivitas di Santa Monin ca, California mengatakan, bahwa dengan mendengarkan lagu bisa menangkan pikiran seseorang. Tak hanya itu saja, membaca puisi maupun menyaksikan sebuah karya seni, juga bisa menjadi alternatif.

2. Membangun Suasana Hati
Mengirim pesan positif kepada pasangan, teman atau keluarga, dapat membantu Anda bersemangat dalam bekerja. Cara ini bisa dilakukan agar dapat meredakan tingkat stres yang Anda alami. Mungkin ini terdengar klise, namun cara tersebut bisa membuat Anda mengungkapkan kebahagiaan maupun keluh kesah sambil bersenda gurau dengan orang terdekat.

3. Melakukan Kreativitas
Allison Arden, seorang penulis mengatakan cobalah untuk melakukan sesuatu yang baru. Lalu, berusahalah untuk fokus agar kreativitas Anda bisa terus mengalir. Misalnya, Anda bisa mencari pengetahuan yang baru melalui internet, mendownload e-books, belajar bahasa asing, dan lain sebagainya.

4. Prioritaskan Tugas yang Paling Penting
Sebaiknya prioritaskanlah pekerjaan yang paling penting dan perlu diselesaikan secepatnya. Ini bisa membantu Anda terbebas dari deadline pekerjaan yang membuat Anda menjadi stres. Buatlah daftar disetiap harinya mengenai apa saja yang harus dikerjakan. Dengan cara tersebut, Anda bisa mengetahui pekerjaan mana yang perlu diprioritaskan.



Sumber: ***