Selasa, 24 Juli 2012

Manfaat Salat Tarawih Bagi Kesehatan

img
(Foto: ThinkStock)
Umat muslim melakukan salat 5 waktu dalam sehari. Namun ketika bulan Ramadhan, ada tambahan salat Tarawih yang dilakukan seusai salat Isya' di malam hari. Gerakan salat diketahui dapat meningkatkan fleksibiltas dan kebugaran otot tubuh, demikian pula dengan salat Tarawih yang durasinya relatif lebih panjang.

"Tingkat metabolisme otot meningkat ketika melakukan salat sehingga menyebabkan kekurangan oksigen dan nutrisi otot. Kekurangan ini akan menyebabkan vasodilatasi, peningkatan kaliber pembuluh darah, sehingga memungkinkan darah mengalir dengan mudah kembali ke jantung. Peningkatan beban jantung akan memperkuat dan memperbaiki sirkulasi otot jantung," kata Dr Ibrahim B. Syed, Ph.D, profesor kedokteran klinis dari University of Louisville School of Medicine seperti dilansir Islam for Today, Senin (23/7/2012).

Menurut dr Ibrahim, glukosa darah dan plasma insulin mulai meningkat dalam waktu 1 jam atau lebih setelah berbuka puasa. Glukosa dan gula darah mencapai tingkat tinggi dalam waktu 1 atau 2 jam kemudian. Saat masuk salat tarawih, glukosa yang beredar akan dimetabolisme menjadi karbon dioksida dan air agar tetap stabil.

Tak hanya itu, doa-doa yang dilantunkan selama Tarawih membantu pengeluaran kalori ekstra dan meningkatkan fleksibilitas, koordinasi, mengurangi stres, kecemasan dan depresi.

Lebih lanjut lagi, dr Ibrahim menjelaskan berbagai manfaat salat Tarawih bagi kesehatan, yaitu:

1. Meningkatkan kebugaran fisik

Ketika melakukan sedikit upaya tambahan dalam melakukan salat Tarawih, terjadi peningkatan daya tahan, stamina, fleksibilitas dan kekuatan tubuh. Salat menghasilkan perubahan fisiologis yang sama seperti ketika jogging atau berjalan, namun tanpa efek samping.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 17.000 orang alumni Harvard memberikan bukti kuat bahwa latihan aerobik setara dengan joging sekitar 3 mil sehari, meningkatkan kesehatan dan dapat memperpanjang usia. Pria yang mengeluarkan energi sekitar 2000 kkal setiap minggu memiliki angka kematian seperempat sampai sepertiga kali lebih rendah dibandingkan yang sedikit atau tidak berolahraga.

2. Meningkatkan daya tahan lansia

Seiring pertambahan usia, aktivitas yang dilakukan seseorang berkurang karena tulangnya menjadi makin tipis. Jika tidak dirawat, maka risiko osteoporosis sudah menanti. Gangguan ini paling banyak dialami wanita ketika memasuki menopause akibat penurunan estrogen.

Saat melakukan gerakan berulang dan teratur selama salat, maka kekuatan otot, tendon, fleksibilitas sendi dan respon kardiovaskular meningkat. Oleh karena itu salat Tarawih memungkinkan para lansia tetap siap ketika menghadapi kesulitan tak terduga yang dapat melukai tubuhnya. Tarawih akan meningkatkan daya tahan dan kepercayaan diri untuk menjadi mandiri.

3. Membantu mengontrol berat badan

Salat dapat mengontrol berat badan dan mengeluarkan kalori tanpa meningkatkan nafsu makan. Kombinasi dari pembatasan asupan makanan saat sahur dan buka puasa disertai Tarawih akan membantu mengurangi berat badan. Berat badan akan tetap terkontrol jika tidak makan terlalu banyak pada sahur dan buka puasa serta rajin melakukan Tarawih.

4. Meningkatkan suasana hati

Olahraga diketahui dapat meningkatkan suasana hati dan kualitas hidup sekaligus mengurangi kecemasan dan depresi. Peneliti dari Universitas Harvard, Dr Herbert Benson, menemukan bahwa melafalkan do'a dan ayat kitab suci ditambah aktifitas ringan akan memicu relaksasi yang dapat menurunkan tekanan darah, tingkat pernapasan dan denyut jantung.

Oleh karena itu, Tarawih membuat pikiran berada dalam keadaan rileks. Keadaan tenang pikiran ini juga mungkin dipicu pelepasan hormon encephalins dan endorfin ke dalam sirkulasi darah.


Sumber: ***

Makan Sahur Itu Baiknya Tidak Sembarangan!

 
Konon sahur itu penting untuk menjaga stamina tubuh selama berpuasa. Buat yang gak suka sahur karena gak bisa melek, perlu dicatet tuh, bahwa sahur itu penting!!!!

Kelompok makanan yang perlu dikonsumsi adalah karbohidrat (nasi merah, roti gandum, ubi, kentang), susu dan produk susu, ikan, daging dan unggas, kacang-kacangan, buah dan sayuran. Selain itu yang tidak boleh dilupakan adalah banyak-banyak minum air putih dan juga perbanyak komsumsi serat biar pencernaan tetap lancar jaya. Dan makanan yang baiknya dihidari ketika sahur adalah:
  1. Makanan berlemak dan gorengan
  2. Makanan pedas dan kalengan
  3. Makanan yang mengandung banyak gula dan karbohidrat olahan
  4. Minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh, soda dan lainnya
Konon makan-makanan yang perlu dihindari tersebut adalah makanan yang bisa menyebabkan:
  1. Gangguan pencernaan—> perlu dicatet nih: jadi bukan sinyal atau jaringan internet saja yang bisa terganggu, pencernaan pun ada juga gangguannya.
  2. Nyeri ulu hati—> bahaya buat ABG gaul yang baru putus nih, karena udah hatinya patah ditambah nyeri lagi, gimana total rasanya coba?
  3. Masalah berat badan—> jadi bertanya-tanya, kira-kira bikin nambah atau kurang nih?
Demikian sharing kita kali ini, semoga bermanfaat. Terima kasih kunjungannya.


Sumber: ***

Pengalaman Sukses Berhenti Merokok di Bulan Puasa

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Momen puasa sangat membantu bagi yang punya niat berhenti merokok. Seorang mantan perokok berat telah membuktikan bahwa kebiasaan merokok tidak hanya berhenti saat puasa saja, tetapi bisa berlanjut hingga ke bulan-bulan berikutnya.

Saryono (28 tahun), seorang sopir di sebuah perusahaan jasa transportasi dan pengiriman barang sudah mengenal rokok sejak SMP. Bukan cuma rokok filter yang dihisapnya, laki-laki asal Cilacap ini dulunya juga merokok kretek dan tembakau linting yang kadang dicampur kemenyan.

Kesadaran untuk berhenti merokok bisa dibilang agak terlambat, karena baru dialaminya sekitar tahun 2009 ketika ia mulai sering batuk-batuk dan napasnya mulai sering sesak. Beberapa kali ia mencoba untuk berhenti merokok, namun gagal karena ia merasa sudah dalam tahap kecanduan.

Akhirnya, laki-laki beranak satu ini menemukan momen yang tepat untuk menghentikan kebiasaan merokoknya. Tepat pada bulan Ramadan di tahun tersebut, ia membulatkan tekad untuk benar-benar stop merokok sama sekali tanpa harus dikurangi sedikit-sedikit.

"Sangat terbantu, karena selama Ramadan itu banyak kegiatan. Dari saya sendiri juga sudah ada keinginan kuat untuk berhenti merokok, akhirnya waktu itu bisa berhenti sama sekali" tutur Saryono saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (25/7/2012).

Begitu juga setelah bulan puasa berakhir, Saryono masih berhasil menjaga jarak dengan rokok di bulan-bulan berikutnya. Keluhan batuknya mulai berkurang, serak-serak dan juga sesak napas juga sudah tidak dialaminya lagi semenjak jauh dari rokok.

Hanya saja, pengaruh lingkungan kerja yang memang didominasi oleh para perokok menjadi tantangan berat bagi Saryono yang sudah pernah begitu merasakan nikmatnya menghisap tembakau. Akhirnya setelah setahun menyatakan diri bersih dari rokok, laki-laki ini terjerumus lagi.

"Iya, akhirnya memang merokok lagi. Tapi setidaknya saya sudah berhasil selama setahun. Rokoknya juga sudah tidak sekencang dulu, sampai sekarang paling banyak sehari 2 bungkus dan bukan tembakau linting lagi. Cuma rokok putih, yang mild saja beraninya," kata Saryono.

Tahun ini, Saryono ingin memanfaatkan momen yang sama yakni bulan puasa untuk mengulang kisah suksesnya 3 tahun silam. Hingga hampir sepekan berpuasa, ia berhasil melawan godaan rekan-rekan kerjanya yang selalu merokok bersama saat berbuka maupun setelah sahur.

Belajar dari kesalahan sebelumnya, Saryono yakin kali ini dirinya bakal benar-benar berhenti merokok untuk selamanya. Tekadnya sudah bulat, istri mendukung dan dari dirinya sendiri mulai ingin serius memikirkan kebutuhan anaknya yang kini sudah berusia 4 tahun dan akan segera masuk TK.



Sumber: ***

Berhenti Merokok di Bulan Puasa Ternyata Memang Lebih Mudah

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Banyak yang menyepelekan niat untuk berhenti merokok di bulan puasa, karena dianggap pada bulan-bulan berikutnya pasti merokok lagi. Selama motivasinya kuat, para dokter menjamin puasa akan sangat memudahkan upaya berhenti merokok.

"Oh, itu bagus. Yang penting ada tekad yang bulat, motivasi harus kuat. Puasa akan sangat membantu untuk berhenti merokok," kata Dr H Aulia Sani, SpJP(K) FJCC, FIHA, FASCC, ahli jantung dari Klinik Stop Merokok RS Sahid Sahirman saat dihubungi detikHealth, Rabu (25/7/2012).

Berlanjut atau tidaknya ke bulan-bulan berikutnya, menurut Dr Aulia sangat tergantung seberapa besar motivasinya. Kalau motivasinya sangat kuat, maka besar kemungkinannya bulan puasa benar-benar jadi momentum untuk berhenti merokok secara total.

Dr Aulia sendiri mengakui, setiap bulan puasa memang terjadi peningkatan jumlah pasien yang ingin berhenti merokok. Pasien yang datang pada bulan puasa sebagian besar berhasil mengatasi kecanduan rokoknya dan tidak pernah kembali merokok sampai sekarang.

"Lagipula puasa itu kan sekalian detoks. Kalau sebulan tidak merokok, racun-racunnya sudah banyak berkurang. Kalau dilanjutkan sampai setahun, atau sampai 10 tahun maka tubuhnya sudah bersih lagi seperti semula," kata Dr Aulia yang selalu mengingatkan bahaya rokok pada setiap pasiennya.

Sedangkan untuk membangkitkan semangat atau motivasi, Dr Aulia berharap para ustadz bisa ikut mengkampanyekan bahaya rokok di kalangan umatnya. Namun ia mengakui, tidak semua ustadz bisa diandalkan karena tidak sedikit juga dari para ustadz yang juga merokok.

Bukan cuma Dr Aulia saja yang mengharapkan peran para pemuka agama, seorang ahli paru-paru dari RS Persahabatan juga berpendapat serupa. Di bulan puasa ini, dr Achmad Hudoyo, SpP(K) berharap para ustadz bisa membantu membangkitkan motivasi umatnya untuk berhenti merokok.

"Untuk berhenti merokok, motivasi itu yang utama. Ditambah momen bulan puasa, akan ada poin plus yang membuat orang makin mudah berhenti. Di situ saya berharap para ustadz mau menganjurkan umatnya untuk berhenti merokok," kata dr Hudoyo dalam wawancara dengan detikHealth beberapa waktu silam.



Sumber: ***

Puasa Jadi Momen Tepat untuk Tobat Merokok?

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Tidak sedikit perokok yang memanfaatkan bulan puasa sebagai momen untuk berhenti merokok. Jika makan dan minum yang merupakan kebutuhan pokok saja bisa dibatasi, bisakah merokok yang jelas tidak ada manfaatnya dihentikan saat puasa?

Aby, seorang karyawan swasta di Jakarta memiliki tekad bulat untuk menghentikan kebiasaan merokok yang dimulainya sejak duduk di bangku SMP. Jika berhasil, maka bulan Ramadan 1433 H, atau bulan puasa tahun ini bakal menjadi momen bersejarah bagi lelaki paruh baya ini.

Niat berhenti merokok memang tidak diputuskan oleh Aby bertepatan dengan awal bulan puasa, melainkan sudah sejak 3 pekan yang lalu. Namun diakuinya, datangnya bulan Ramadan tidak lama sesudahnya telah menjadi motivasi tersendiri untuk menyukseskan tekadnya tersebut.

"Awalnya saya berhenti karena batuk-batuk. Begitu batuk sembuh, pas masuk bulan puasa. Jadi Alhamdulillah, puasa memang benar-benar membantu," kata Aby yang mengaku mengalami radang paru-paru, saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (25/7/2012).

Tentu tidak mudah bagi Aby yang selama ini tergolong perokok berat, yang biasanya dalam sehari bisa menghabiskan 3 bungkus rokok. Butuh motivasi yang sangat kuat, untuk bisa benar-benar langsung lepas dari kecanduan tanpa melalui tahapan mengurangi sedikit-sedikit.

Keinginan kuat untuk memanfaatkan bulan puasa sebagai momen berhenti merokok juga dialami oleh Saryono, seorang sopir jasa transportasi di Jakarta. Laki-laki 28 tahun asal Cilacap ini sudah meneguhkan hati, untuk mengucapkan selamat tinggal pada asap tembakau pada bulan puasa tahun ini.

"Saya yakin bisa berhenti. Istri mendukung, sementara anak saya juga sudah mulai besar. Sudah 4 tahun, sebentar lagi masuk TK," kata Saryono yang biasa menghabiskan 2 bungkus rokok Sampoerna Mild perhari, bahkan sebelumnya lebih parah lagi karena rokoknya adalah tembakau linting tanpa filter.

Diakui oleh Saryono, memang tidak mudah untuk berhenti merokok pada bulan puasa. Pasalnya di lingkungan tempat kerjanya, rekan-rekan yang habis buka puasa atau sahur pasti merokok bersama-sama sehingga selalu ada keinginan untuk bergabung dan bersama-sama menghisap asap tembakau.

Sementara Wawan, seorang karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Selatan mengaku belum berani menargetkan berhenti merokok pada bulan puasa tahun ini. Namun ia memastikan, momen ini akan ia manfaatkan untuk mengurangi jumlah rokok yang dihisapnya setiap hari.

"Biasanya sehari satu bungkus. Ini sekarang sudah puasa hari kelima baru habis satu bungkus. Niatnya sih seterusnya, tapi lihat saja nanti," kata Wawan yang sebenarnya merasa tidak bebas untuk merokok di tempat kerjanya, karena harus pergi ke tangga darurat yang jarang dilalui orang.

Bagi Wawan, bulan puasa merupakan momen yang paling tepat untuk mengurangi atau bahkan berhenti merokok sama sekali. Selain tidak bisa merokok di siang hari karena akan membatalkan puasa, juga karena malamnya harus ikut tarawih sehingga waktu merokoknya otomatis ikut terpangkas.

Berhenti merokok di bulan puasa telah menjadi tren di kalangan perokok, yang mulai menyadari pentingnya hidup sehat jauh dari asap rokok. Begitu ada motivasi, maka kecanduan akan jauh lebih mudah diatasi karena secara medis maupun keagamaan, merokok di bulan puasa sangat tidak dianjurkan.

Namun kadang, berhenti merokok hanya bisa dilakukan selama bulan puasa lalu kambuh lagi di bulan-bulan berikutnya. Sebenarnya, berhenti merokok di bulan puasa itu susah atau mudah? Hanya Anda sendiri yang bisa menjawabnya.


Sumber: ***