Jumat, 13 April 2012

Awalnya Cenut-cenut Lalu Radang Sendi Meneror Hingga Tak Berdaya

img
Ajat & Annie (dok: detikHealth)

Jakarta, Hampir semua penderita radang sendi mungkin tak mengira cuma gara-gara cenut-cenut di sendi-sendi lalu hidupnya berubah 180 derajat hingga jadi tak berdaya.

Penyakit radang sendi membutuhkan pengobatan jangka panjang serta kesabaran karena tergolong penyakit autoimun yang sulit sembuh.

Kisah berikut dialami Ajat dan Annie yang terus berupaya melawan radang sendi yang hingga akhirnya tidak sia-sia, karena bisa beraktivitas kembali.

Awalnya Ajat Sudrajat tidak mengira jika dirinya terkena penyakit radang sendi atau arthritis rheumatoid. Awalnya ia merasakan rasa nyeri yang luar biasa di jari-jarinya. Ia pun sempat berkonsultasi dengan dokter namun tidak ada perbaikan.

"Minum obat nggak berpengaruh hingga akhirnya ada yang menyuruh saya untuk bekonsultasi dengan rheumatology dan saya didiagnosis arthritis rheumatoid," ujar Ajat dalam acara konpres Tocilizumab: Transformasi Nyata Bagi Pasien Artritis Rheumatoid' di Hotel Shangrila, Jakarta, Jumat (13/4/2012).

Penyakit radang sendi yang dimilikinya membuat ia tidak bisa bekerja secara optimal karena rasa sakit yang terus menerus dirasakannya, bahkan terkadang ia juga pernah dimarahi.

Kondisi ini tentu saja tidaklah mudah bagi Ajat, terlebih ia adalah kepala keluarga yang seharusnya menjadi tumpuan bagi keluarga. Namun radang sendi ini justru membuatnya tidak mandiri dan selalu membutuhkan orang lain.

"Saya kerja di rumah sakit sebagai perawat, kalau bekerja saya diantar naik motor dan jalannya sudah pincang. Saya juga merasakan sakit yang luar biasa saat duduk atau sujud," ujar Ajat yang berasal dari Sumedang, Jawa Barat.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan Dr Rachmat Gunadi, SpPD-KR yang mengajaknya untuk ikut serta dalam Studi Klinis PICTURE INA sehingga ia bisa mendapatkan pengobatan biologis terbaru yaitu Tocilizumab.

Ia pun menjalani pengobatan dengan Tocilizumab selama 24 minggu, dan kini ia bisa duduk bersimpuh saat shalat, menggerak-gerakkan tangan dan jarinya lebih leluasa serta nyeri sendinya sudah jauh berkurang.

Bahkan kini ia sudah bisa membantu sang istri membereskan rumah seperti menyapu, membersihkan meja makan hingga mencuci piring. Padahal sebelum pengobatan ia tidak bisa mengancingkan bajunya sendiri.

Bikin Depresi

Hal yang sama juga dialami oleh Ibu Annie Siregar, meskipun sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai penyuluh tingkat nasional di Departemen Pertanian, ia sudah terbiasa untuk tetap aktif bepergian, bertemu banyak orang dan melakukan aktivitas sosial.

Sampai suatu hari ia tidak bisa bangun dari tempat tidur karena nyeri yang hebat di sekujur tubuh, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur selama hampir 2 bulan. Kondisi ini sempat membuatnya depresi.

"Semua terganggu, saya yang biasa aktif dan suka menolong orang jadi tidak bisa pergi kemana-mana dan justru malah saya yang jadi ditolong orang. Saya sempat putus asa, dikasih obat nggak mau diminum, hanya makan quaker selama 3 bulan hingga Hb (hemoglobin) saya turun," ujar Ibu Annie.

Hingga akhirnya diketahui bahwa penyakit radang sendi yang membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Meski sudah mendapatkan obat dari dokter dan bisa bangun tempat tidur, tapi rasa nyerinya tak kunjung hilang dan masih kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari seperti memasak dan menjahit.

"Saya mengalami radang sendi sudah 8 bulan sejak tahun 2011, hingga akhirnya saya pergi ke Bandung untuk bertemu dengan ahli rematologi Dr Rachmat Gunadi, SpPD-KR di RS Hasan Sadikin Bandung," ungkapnya.

Ia pun akhirnya mendapatkan pengobatan terbaru untuk radang sendi yaitu dengan menggunakan Tocilizumab. Setelah pengobatan selama 24 minggu kini kondisinya sudah jauh lebih baik.

Ibu Annie mampu melakukan berbagai aktivitas kembali seperti memasak, menjahit bahkan dapat menyetir kendaraan kembali. Kini ia merasa hidupnya bisa bermanfaat kembali bagi orang-orang disekitarnya.
 
 
Sumber: ***

0 komentar:

Posting Komentar