Kamis, 09 Februari 2012

Kena Osteoporosis Setelah Punya Bayi


img
Georgina Howard (dok. dailymail)

Nottingham, Inggris, Saat hamil, wanita memang sering mengeluhkan sakit pinggang dan punggung yang juga bisa berlanjut hingga pasca melahirkan. Namun seorang wanita merasakan sakit punggung yang tidak biasa, ia didiagnosis osteoporosis di usia 29 tahun setelah melahirkan putrinya.

Georgina Howard (36 tahun) didiagnosis menderita osteoporosis atau pengeroposan tulang di usia yang sangat muda, yaitu 29 tahun. Ia merasakan gejala saat usia putrinya Mia baru 2 minggu.

Menurut dokter, osteoporosis yang diderita Georgina dipicu oleh kehamilan dan rasa sakit di punggungnya ternyata disebabkan karena retak di bagian tulang belakang.

"Saya belum pernah merasakan hal seperti itu," jelas Georgina Howard yang berasal dari Nottingham, Inggris, seperti dilansir Dailymail, Selasa (7/2/2012).

Rasa sakit awalnya dirasakan Georgina di bagian tulang bahu, kemudian menyebar ke punggung atas dan lengan. Bahkan ia juga sempat merasakan kesulitan bernapas.

Selama beberapa hari berikutnya, rasa sakit semakin intensif dan menyebar ke bagian punggung. Meski demikian, ia masih berjuang dan tidak mau mengonsumsi obat penghilang rasa sakit karena dapat mempengaruhi kualitas ASI.

Namun setelah 2 minggu, ia hampir tidak bisa berdiri tegak atau berjalan, sehingga ia memutuskan untuk mencari pertolongan dokter umum. Saat itu, dokter hanya mengatakan bahwa ia mengalami gangguan yang biasa dirasakan oleh ibu baru, yang merupakan efek dari kehamilan.

"Dokter mengatakan banyak ibu yang menderita sakit punggung selama dan setelah melahirkan. Saya merasa konyol menemuinya dan hanya diberi resep untuk obat penghilang rasa sakit yang aman untuk dikonsumsi selama menyusui," tuturnya.

Tetapi rasa sakit yang dirasakan Georgina jauh lebih parah dari sekedar sakit punggung pasca melahirkan. Di usianya yang baru 29 tahun, dokter akhirnya mendiagnosisnya dengan osteoporosis yang dipicu oleh kehamilan. Ia juga mengalami retak tulang belakang sehingga menimbulkan rasa sakit di punggung.

Osteoporosis adalah penurunan kepadatan tulang yang membuat kerangka rapuh dan dikenal sebagai kondisi umum di kalangan wanita pasca-menopause, yang disebabkan oleh menurunnya kadar hormon estrogen yang sangat penting untuk tulang sehat dan kuat.

Namun kepadatan tulang wanita juga bisa turun sementara selama tahap terakhir dari kehamilan dan menyusui, saat tubuhnya menyediakan kalsium untuk bayinya tumbuh.

Dalam kebanyakan kasus, tubuh akan beradaptasi. Tapi untuk sejumlah kecil wanita, kepadatan tulang menjadi rendah sehingga terjadi osteoporosis dan pasien dapat menderita patah atau pecah tulang, aik selama kelahiran atau sampai 12 minggu setelah itu.

Zona bahaya termasuk bagian belakang, pinggul dan pergelangan tangan, di mana tulang yang lebih berpori dan kenyal.

"Ini bentuk yang jarang dari osteoporosis dan karena merupakan kondisi yang jarang, kasus mungkin terlewatkan atau salah didiagnosis," jelas Dr John Stevenson, dokter konsultan metabolik di Royal Brompton Hospital, London.

Georgina menghabiskan dua bulan dalam penderitaan dan membuat perjalanan tak terhitung jumlahnya untuk operasi lokal sebelum ia akhirnya menemukan apa yang salah dengan dirinya.

"Saya baru 29 tahun tetapi merasa seperti seorang wanita tua. Suamiku, Jeff, harus menyisir rambutku dan membantuku mandi. Pada malam hari, rasanya terlalu sakit untuk berbaring, jadi saya duduk, diganjal oleh bantal dan menangis," kenangnya.

Banyak ahli bingung menjelaskan mengapa kehamilan dapat berhubungan dengan osteoporosis yang mempengaruhi beberapa wanita. Salah satu perkiraan, pada sebagian wanita, kehamilan memicu reaksi mendadak pada kerangka yang sebelumnya normal.

Alasan lain, kemungkinan wanita memulai kehamilan dengan massa tulang sudah rendah dan hilangnya tulang normal yang terjadi pada kehamilan lebih lanjut kemudian menyebabkan penipisan tulang, sehingga memicu patah tulang karena osteoporosis.

"Perubahan hormonal mungkin juga harus disalahkan. Biasanya pada kehamilan, tingkat hormon dari bentuk vitamin D meningkat dalam rangka meningkatkan penyerapan kalsium dari usus dan juga untuk mendorong kerusakan tulang yang akan diserap kembali oleh tubuh sebagai bentuk lain dari kalsium," jelas Dr Stevenson.

Peningkatkan hormon ini memberikan kalsium tambahan yang dibutuhkan selama kehamilan. Namun, penelitian telah menemukan bahwa pada wanita dengan osteoporosis yang dipicu kehamilan, tingkat hormon vitamin D tidak meningkat.

"Akibatnya, simpanan kalsium ibu yang habis. Tapi mengapa ini harus terjadi, kami tidak tahu," lanjut Dr Stevenson.

Wanita dengan osteoporosis biasanya diobati dengan bifosfonat, yaitu obat kuat yang memperlambat kehilangan tulang dalam tubuh. Namun, obat ini biasanya diberikan hanya untuk wanita pasca-menopause dan dokter enggan memberikannya kepada wanita belum punya banyak anak, karena efek jangka panjang pada tengkorak bayi yang sedang berkembang yang belum sepenuhnya dipahami.

Georgina malah memakai obat penghilang rasa sakit yang kuat dan mengambil suplemen kalsium serta obat yang disebut kalsitonin, yang memperlambat pengeroposan tulang.

Sayangnya di antara penderita osteoporosis terkait kehamilan, kepadatan tulang tidak membaik pada tingkat yang diharapkan dan tengkoraknya tetap lemah dan berbahaya. Georgina bahkan tidak dapat lagi kembali ke pekerjaannya.


(mer/ir

Sumber:  ***

0 komentar:

Posting Komentar