Sabtu, 11 Februari 2012

Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan

Suryo
Suryopratomo
SEPEKAN terakhir ini kita disibukkan oleh isu tentang piramida yang konon berada di dalam Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat. Staf Khusus Presiden, Andi Arif bukan hanya mengumumkan kepada publik temuan yang masih bersifat prematur, tetapi menyampaikan rencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Masyarakat Garut yang tinggal di sekitar Gunung Sadahurip sempat panik, karena khawatir mereka harus tersingkir dari tempat mereka tinggal. Padahal berpuluh-puluh tahun warga tinggal di tempat itu dan tidak pernah merasakan ada sesuatu yang aneh.

Satu yang diketahui warga adalah bentuk gunung yang memang tidak seperti gunung-gunung yang lain. Tidak ada tanaman besar yang tumbuh di lereng gunung. Dan yang menakjubkan, sepanjang masa belum pernah ada cerita longsor di sekitar gunung tersebut.

Kalau memang benar bahwa Gunung Sadahurip merupakan piramida yang terpendam, tentu pantas untuk diteliti lebih lanjut. Apalagi jika benar bahwa piramida itu jauh lebih tua umurnya dibandingkan dengan piramida yang ada di Mesir.

Hanya saja semua itu harus dilihat  dengan pendekatan ilmiah. Jangan hanya sekadar menjadi sensasi, apalagi kemudian menimbulkan kehebohan. Kasihan masyarakat  terganggu kehidupannya hanya oleh cara berkomunikasi yang cenderung
sensasional.

Yang namanya sejarah dan peninggalan purbakala bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Semua kajian sejarah sudah dilakukan para ilmuwan sejak lama. Jujur harus dikatakan bahwa selama ini belum pernah ada kajian sejarah yang menyebutkan bahwa manusia Indonesia lebih dahulu ada di muka Bumi.

Sejauh ini peradaban manusia diketahui dimulai dari kawasan Timur Tengah. Kota yang pertama dikenal di muka Bumi diketahui adalah Jericho di Palestina. Kalau peradaban dimulai dari sana, wajar apabila peninggalan purbakala tertua kebanyakan berada di kawasan itu.

Oleh karena itu akal sehat kita seharusnya langsung bertanya, apakah mungkin ada peninggalan di Indonesia yang lebih tua dari peninggalan yang ada di Timur Tengah? Segala kemungkinan memang bisa saja terjadi. Namun kehati-hatian harus dilakukan agar jangan sampai gembar-gembor kita lalu menjadi tertawaan bangsa lain.

Beberapa arkeolog meragukan bahwa ada piramida di dalam Gunung Sadahurip. Untuk hal-hal seperti ini, kita lebih sering tidak menggunakan akal sehat. Akibatnya yang lebih menonjol adalah sensasi, yang pada akhirnya hanya meresahkan masyarakat.

Sekarang ini para arkeolog lebih mengharapkan pemerintah memfokuskan diri untuk merawat peninggalan purbakala yang sudah ada. Banyak peninggalan purbakala yang ditelantarkan dan bahkan dikorbankan ketika kepentingan ekonomi mendesak.

Salah satu yang sedang menjadi keprihatinan para arkeolog adalah situs bersejarah Muaro Jambi. Peninggalan bersejarah Kerajaan Sriwijaya dan Melayu itu merupakan situs yang diakui dunia sebagai bagian dari perjalanan agama Buddha di dunia.

Sekarang ini situs itu terancam akibat kegiatan ekonomi yang dilakukan Provinsi Jambi. Pemerintah daerah memberikan izin kawasan sekitar situs dijadikan sebagai tempat penampungan batu bara. Bahkan beberapa kawasan sudah dikeluarkan izinnya untuk perkebunan kelapa sawit.

Tentunya kita tidak menghalangi kegiatan ekonomi karena itu juga diperlukan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Namun jangan pula kegiatan ekonomi sampai merusak peninggalan sejarah karena itu akan membuat kita kehilangan akar sejarah sebagai sebuah bangsa.

Peringatan yang disampaikan para ahli sejarah mengenai situs Muaro Jambi menjadi tepat waktu karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru saja menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Jambi. Kalau Presiden dikatakan mendukung upaya penggalian piramida yang ada di Gunung Sadahurip, tentunya Presiden harus juga peduli dengan Situs Muaro Jambi. Apalagi Situs Muaro Jambi sudah terbukti ada dan diakui nilai kesejarahannya oleh dunia.

Jangan sampai kita mengejar-ngejar peninggalan sejarah yang serba belum jelas, tetapi kita alpa kepada sesuatu yang sudah terbukti dan diminta masyarakat dunia untuk dijaga. Sebab, kita harus juga menjadi bagian masyarakat dunia yang mampu membangun peradaban dan itu harus dicerminkan oleh kemampuan kita untuk merawat peninggalan sejarah yang dimiliki bangsa ini.

Kita seharusnya tersadar oleh peringatan yang dilakukan Unesco atas ketidakmampuan kita mengelola situs sejarah seperti Candi Borobudur. Kita jangan hanya terjebak pada pencitraan, tetapi sungguh-sungguh saja menjalankan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita.

Sumber: ***

0 komentar:

Posting Komentar