Sudah 5 tahun saya berada di Semarang, saya sudah hapal betul dengan suasana persimpangan lampu merah ini. Kebiasaan orang Indonesia mengatakan traffic light seperti itu. Teknologi terus mengalami kemajuan, sama halnya dengan peradaban. Mulai fisik hingga non fisik. Namun, nggak semua berubah. Salah satunya orang yang bekerja sebagai penyebar brosur ini. Apa yang salah dengan profesi ini? Atau karna saya saja yang terlalu sering nongkrong di simpangan lampu merah ini.
.
Setir mobil yang saya pegang ini masih berbentuk lingkaran. Udara panas yang menyengat tak ayal membuat gerah seisi mobil. Maklum demi nama kebebasan alias penghematan isi dompet, saya hanya menyetelnya di level satu. Kacamata hitam bak pemain terminator seakan membuat cermin yang terpantul dari kaca film disamping, membuat saya terlihat gagah. Gagah dalam arti saya sendiri
.
Di Semarang, profesi penyebar brosur di lampu merah sepertinya tak akan pernah mati maupun surut dan juga tak akan gulung tikar. Dengan jumlah ratusan lembar ditangan, penyebar brosur ini sangat gigih dalam bekerja. Yah, bekerja hanya memberikan brosur kepada kendaraan yang sengaja di setting berhenti di lampu merah. Meski badai hujan menerjang dan terik matahari, mereka rela kok bekerja dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan sedikit saja penyambung hidup.
.
Tulisan ini sedikit menggelitik naluri saya sebagai blogger. Kenapa sih, orang tersebut rela bekerja seperti itu? Kenapa sih, tempat yang menyuruhnya bekerja seperti itu masih menggunakan cara-cara tradisional. Mengapa tidak menggunakan social media sebagai bentuk promosinya. Saya kira, masih banyak alasan-alasan yang ada di otak saya dan pemilik brosur tersebut.
.
Sebagai orang yang paham sedikit tentang social media dan pekerjaan juga sebagai blogger tanda petik, masih terus berusaha. Saya ingin sedikit berbagi informasi mengenai apa itu social media dan apa kelebihannya daripada cara manual yaitu nyebarin brosur ditengah jalan.
Murah
Dengan seperangkat komputer maupun smartphone (saya jujur gak punya), dana yang dikeluarkan cukup murah tentunya. Dana yang dikeluarkan mungkin hanya untuk bayar tagihan internet yang sekarang ini bisa didapatkan hanya 50 ribu atau kurang dari itu bisa digunakan selama sebulan. Berbeda dengan brosur kertas yang dananya bisa lebih dari 50 ribu bukan.
.
Social media atau dalam bahasa Indonesia media sosial, adalah tool atau alat yang berkembang saat ini dan banyak orang memanfaatkan ini untuk promosi maupun mengikuti tren serta nyebarkan informasi. Lalu, apa saja dalam social media tersebut. Mulai dari facebook, twitter, youtube, blog, dan masih banyak lagi. Alat ini sangat murah hanya butuh akses internet. Harganya, seperti yang saya sebut diatas
Santai
Ada berapa orang yang bekerja sebagai penyebar brosur? 5 atau 6 orang? Bagi mereka, asal sudah bisa bekerja saja sudah cukup dengan menerima gaji yang dapat menyambung kehidupan mereka. Sedangkan bagi pemilik brosur, selain melebarkan sayap dengan promosi, mungkin pemilik brosur ini hatinya seperti dewa. Terketuk dan iba melihat pengangguran. Mungkin cara ini yang bisa ia berikan. Kapan majunya Indonesia jika harus berpikir demikian tanpa ada perubahan.
.
Perubahan disini bukan untuk mengubah cara promosinya. Tapi memberi pekerjaan yang santai namun berbobot. Berikan mereka keahlian, dan pekerjaan mereka dalam ruangan. Dengan bekerja di dalam ruangan, aktivitas mereka tentu lebih santai. Mencari pelanggan melalui internet khususnya social medai, tentu lebih mudah. Membangun jaringan di social mudah tentu sangat mudah sekarang ini tinggal bagaimana meletakkan follower’s mereka sebagai raja tentunya.
Mencari follower
Mungkin twitter dan facebook saat ini menjadi akun social media yang masih seksi. Buktinya mereka berdua nangkring di negara kita diurutan 3 besar pengguna di dunia. Itu artinya, masyarakat kita ada di alam maya sana. Mengapa tidak kita datangin mereka dan menjadikan mereka pengikut kita. Berbeda dengan orang-orang yang kita temui di dunia nyata. Siapa mereka, apa yang mereka pikirkan tentang dirinya dan kita.
.
Dengan memanfaatkan social media, kita tahu kebutuhan mereka dan tahu sasaran orang yang dituju. Daripada orang di lampu merah. Saya aja jadi bosan jika harus diberi terus. Dampaknya, saya kasihan dan kertas yang diberikan menumpuk dan menjadi sampah tentunya.
Tren saat ini
Banyak informasi yang saya dapatkan baik dari majalah maupun informasi online. Semua orang bahkan perusahaan sudah menggunakan cara marketing lewat social media. Bahkan, di akhir tahun 2011, saya mengikuti event markplus 2012 di Jakarta, pak Hermawan sebagai orang marketing terkenal di Indonesia pun mengatakan tren 2012, pemasaran akan terus menggunakan social media sebagai senjata ampuhnya.
.
Mungkin saya terlalu banyak mendapatkan informasi dan tidak mengetahui sisi pemilik brosur. Oke, saya minta maaf atas ke sok- tahuan saya. Namun, saya sependapat jika tren 2012, social media menjadi senjata ampuh untuk pemasaran sebuah produk.
.
Itulah sedikit berbagi dari saya mengenai pemasaran yang menggunakan cara konvensional maupun dunia maya. Bukan ingin sok tahu. Cuma, inilah cara efektif saat ini daripada 4 tahun terakhir saya melihat para penyebar brousur ini bekerja dengan gagah perkasa tanpa ada perubahan. Bukankah Tuhan saja mengatakan tentang perubahan. So, sebagai manusia yang peduli. Mari sedikit saja berubah demi masa depan yang lebih baik.
.
Ada dua motivasi terbesar dalam hidup. Yang satu adalah karena takut. Dan satunya adalah karena cinta. Silahkan pilih yang mana anda inginkan.
.
Terimakasih.
Sumber: ***






0 komentar:
Posting Komentar